oleh

Kita Harus Bangun 100 Sekolah Lagi

Oleh: Indra Kurniawan

TENTUNYA pendidikan adalah hal yang penting dan utama dalam membangun suatu bangsa yang beradab. Kita bisa melihat kedigdayaan beberapa bangsa di dunia disebabkan karena mereka fokus dalam membangun pendidikan, membangun sumber daya manusia. Eropa, Amerika, dan Jepang dalam beberapa dekade terakhir begitu superior di dunia, mereka mengusai berbagai macam sektor kehidupan manusia, dan yang terbaru adalah China dan Korea Selatan. 30 tahun lalu China dan Korea Selatan adalah bangsa yang belum diperhitungkan di dunia, namun hari ini ia menjadi kekuatan utama dunia dalam berbagai sektor pula, sebut saja industri kecantikan, fashion, music, teknologi, energy, bahkan kebudayaan telah membuat dunia demam dan takjub.

KPOP, Samsung, Huawei, Tiktok adalah sedikit dari banyaknya produk-produk yang mereka hasilkan serta mempengaruhi dunia. Lagi-lagi pendidikan menjadi instrument penting di balik kemajuan dan kedigdayaan China dan Korea Selatan hari-hari ini, oleh karena itu pembangunan sumber daya manusia juga berarti membangun pendidikan tidak bisa di tawar lagi.

Membangun pendidikan memang bukan hanya soal membangun sekolah seperti judul di atas, tetapi banyak faktor. Guru berkualitas, kurikulum visioner dan kontekstual yang berorientasi pada memanusiakan manusia. Serta kepedulian kepada lingkungan hidup, juga sarana-sarana pendukung lainya. Namun bagi kami membangun sekolah adalah pekerjaan awal dari banyaknya pekerjaan dalam dunia pendidikan, memastikan setiap anak berada dalam kelas dan memperoleh pendidikan jauh lebih penting, sebab dari hasil analisa kami bahwa banyak anak-anak wajib sekolah berada diluar ruang kelas dan hilang secara misterius dari  sekolah, angkanya juga cukup mengkhawatirkan.

Sebagai contoh izinkan kami mengajukan simulasi perhitungan sederhana sebagai berikut ; Per tahun 2020 menurut data BPS Tana Tidung, bahwa jumlah siswa Sekola Dasar (SD) se Tana Tidung adalah 3.078  orang Siswa, dan Jumlah Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se Tana Tidung adalah 908 orang siswa. Jika Siswa Sekolah Dasar (SD) Kita bagi 6 sesuai tingkatan kelas maka rata-rata jumlah siswa per tingkatan kelas adalah 513 orang siswa, dapat kita tarik juga jumlah itu sebagai jumlah anak yang masuk sekolah setiap tahunnya.

Bagaimana dengan Sekolah Menengah Atas (SMA)? Berapa jumlah siswa yang lulus per tahunnya? Mari kita hitung saja, 908 siswa kita bagi 3 sesuai tingkatan kelas maka akan kita dapati jumlah anak per tingkatan kelas adalah 302 orang siswa, dapat kita tarik bahwa rata-rata siswa Sekolah Menegah Atas (SMA) yang lulus per tahunnya adalah 302 orang siswa, dapat kita asumsikan bahwa ada 500-an siswa yang pernah masuk Sekolah Dasar (SD) namun hanya 300-an siswa yang lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).

Lantas kita bertanya, kemana 200 orang siswa yang pernah masuk namun tak pernah keluar itu? Kemana mereka? Putus Sekolah? Yah..bisa jadi, kalau angka tersebut kita diamkan selama 5 tahun maka angkanya sekitar 1.000 anak, atau 10 tahun maka angka anak hilang (agar tidak menyebut putus) dari sekolah cukup menghawatirkan kita. Bagaiamana kalau 30 tahun karena kita tidak melakukan apa-apa, itulah anak-anak yang akan mengisi jalannya roda kehidupan Tana Tidung di masa depan, menjadi anak-anak daerah yang lemah secara intelektual bagaimana mau bersaing?

Sekarang mari kita lihat berapa jumlah sekolah kita di Tana Tidung per 2020. Sumber BPS Tana Tidung, Sekolah Dasar (SD) = 30, Sekolah Menengah Pertama (SMP) = 9, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) = 3. Bayangkan dari jumlah sekolah saja kita sudah dapat menduga bahwa salah satu penyebabnya adalah ketimpangan yang amat antar Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Bukan jumlah kapasistas daya tampung yang kita maksud, tentu jika itu akan mudah kita bantah dengan mengatakan Tana Tidung memiliki Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang besar dan baik, bahkan mungkin di Kaltara. Tentu itu adalah hal lain yang harus kita apresiasi tinggi juga, namun menurut hemat kami, menghadirkan sekolah yang dekat dengan pedesaan harus menjadi fokus pekerjaan di masa depan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed