oleh

Penguatan Pendidikan Agama Dalam Keluarga

Oleh : Herman Aisa Pabittei, S.Ag
(Penyusun Bahan Penerbitan Dakwah Pada Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan)

DALAM rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) 29 Juni 2020, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaksanakan kegiatan Covid-19 Family Challenges dengan harapan memberikan suasana baru yang nyaman dan penuh rekreasi pembudayaan aktivitas fisik di setiap anggota keluarga. Melalui kegiatan ini setiap keluarga dapat berkumpul bersama (dengan meluangkan waktu antar keluarga tanpa disibukkan dengan gawai, televisi atau alat elektronik lainnya), keluarga saling berinteraksi (di mana semua anggota keluarga meluangkan waktu berkumpul dan saling bercengkrama), setiap keluarga berdaya (dimana semua anggota keluarga dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk tidak bergantung pada pihak lain), serta keluarga yang peduli dan berbagi (suatu kegiatan dimana keluarga yang lebih mampu memiliki kepedulian untuk berbagi kepada orang lain).

Apa itu Covid-19 Family Challenges?

Covid-19 Family Challenges diselenggarakan dengan pemberian tantangan aktivitas fisik harian, aspek asupan gizi seimbang dan aspek rekreasi, disertai edukasi aktivitas fisik melalui penggunaan aplikasi berbasis website dan sosial media (Instagram) sebagai tempat pendaftaran dan evaluasi keikutsertaan peserta dalam setiap challenges yang diwajibkan.

Ada pertanyaan sederhana, apa yang membuat hidup kita lebih bermakna? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tetapi secara umum dapat diterka, bahwa yang membuat hidup seseorang lebih bermakna adalah dua hal, yaitu agama dan keluarga. Mengapa mesti agama dan keluarga? Karena agama yang memberikan makna dalam kehidupan manusia untuk mencapai terminal kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Sedangkan keluarga merupakan cikal bakal kehidupan manusia sebelum mengarungi kehidupan yang lebih luas lagi di dunia. Sehingga, nilai-nila yang ditanamkan dalam keluarga akan memberikan makna yang sangat berharga bagi perjalanan kehidupan selanjutnya.

Dalam kehidupan nyata, kita dapatkan orang yang bergelimang dengan harta, tetapi hidupnya merasa tidak bermakna karena jauh dari agama. Pada saat yang sama ada orang yang hidup sederhana, tetapi merasa bahagia karena mengamalkan ajaran agama. Begitu pula banyak orang yang merasa hampa dan tidak berguna karena kehidupan keluarganya tidak harmonis. Tetapi banyak juga orang yang merasa bahagia dan bersemangat kerja, karena keadaan keluarganya rukun. Juga banyak anak-anak yang terlantar, merana dan menjadi korban narkoba, karena keadaan keluarganya berantakan. Dengan demikian, agama dan keluarga merupakan instrumen penting dalam membangun kehidupan agar lebih bermakna dan bahagia.

Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang sempurna sangat memperhatikan pembinaan agama dalam keluarga. Islam sangat menekankan pendidikan agama dalam keluarga. Karena keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama dalam mempersiapkan generasi-generasi terbaik bangsa. Sementara agama menjadi fondasi dan bekal utama bagi generasi muda dalam mengarungi kehidupan yang penuh dinamika. Ternyata sejarah telah membuktikan, bahwa generasi-generasi yang berhasil dan tangguh adalah mereka yang berasal dari keluarga yang dari sejak dini menanamkan pendidikan agama pada anak-anaknya.

Alquran sebagai kitab suci Umat Islam banyak menceritakan tentang kisah-kisah sukses keluarga yang mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi generasi-generasi yang tangguh, unggul dan shaleh. Seperti kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang sukses membina keluarganya sehingga anak keturunannya semuanya diangkat menjadi nabi dan rasul.

Alquran pun mengabadikan keluarga Imran menjadi nama surat dalam Al-Quran, yakni Surat Ali-‘Imran (keluarga Imran), karena keluarga ini sudah menunaikan janjinya untuk mengajari putrinya (Maryam) dengan pendidikan agama di bawah asuhan Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Sehingga kelak dari wanita suci Maryam ini lahirlah seorang rasul, yakni Nabi Isa ‘alaihissalam. Alquran juga mengabadikan keluarga Luqman Al-Hakim yang bukan nabi dan rasul menjadi Surat Luqman. Karena ia telah berhasil mendidik anaknya dan meletakkan dasar-dasar pengajaran agama dalam keluarga untuk mempersiapkan generasi-generasi yang shaleh.

Akan tetapi Alquran pun memberikan sinyalemen, bahwa setelah generasi terbaik akan datang generasi yang sangat jelek dari segi akhlak dan moralnya. Ciri-cirinya adalah generasi yang menyia-nyiakan perintah agama untuk melaksanakan shalat dan mereka pun dalam kehidupannya selalu memperturutkan hawa nafsu dengan banyak berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Akibatnya kehidupan menjadi rusak dan ancaman kehancuran sudah berada di depan mata. Allah SWT berfirman: Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam [19]:59).

Apa yang disampaikan Alquran ini tentunya harus menjadi perhatian kita semua. Sejalan dengan fenomena generasi sekarang ini yang berada di ambang ancaman dekadensi moral dengan merajalalelanya tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan generasi muda, seperti terjerat narkoba, tawuran, pergaulan bebas, tindakan kekerasan dan perbuatan kriminal lainnya. Jelas fenomena ini sangat mengkhawatirkan, karena dapat dibayangkan bagaimana nasib bangsa ke depan apabila generasi mudanya tak dapat diandalkan. Maka semua elemen bangsa harus terpanggil dan ikut memikirkan, bagaimana solusinya untuk memperbaiki moral dan mental anak-anak bangsa? Di antara solusinya adalah kita harus memperkuat pendidikan agama dalam keluarga.

Karena dari sejak awal Alquran sudah mewanti-wanti, bahwa kita harus bisa menjaga keluarga dari ancaman siksaan neraka. Asosiasi kita tentang siksaan neraka adalah kelak di akhirat. Padahal, itu hanya akibat dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan di dunia. Oleh karena itu, sebagai tindakan preventifnya kita selaku orang tua harus membina mental dan moral generasi muda dengan pendidikan agama sejak dini di lingkungan keluarga.

Allah SWT berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66]:6).

Ternyata yang mesti dikhawatirkan dari anak-anak kita itu bukan masalah perut atau material. Karena secara naluri manusia diberi kemampuan untuk memenuhi hajat hidupnya dan Allah SWT juga sudah menyediakan sumber daya alamnya. Tinggal manusia mencari akal dan bekerja keras untuk menggali dan mengolahnya demi sebesar-besarnya kesejahteraan hidupnya. Tetapi yang perlu dikhawatirkan dari generasi kita adalah masa depan moral spiritualnya. Ini karena apabila moralnya sudah rusak tentu akan sulit memperbaikinya dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan, akan berakibat patal dengan menghancurkan semua sendi-sendi kehidupan manusia.

Oleh karena itu, Allah SWT juga sudah menegaskan Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Thaha [20]:132).

Di sinilah pentingnya penguatan pendidikan agama dalam keluarga. Sehingga diharapkan dapat menyelamatkan anak-anak kita dari jurang kehancuran dan kehinaan. Berdasarkan petunjuk Al-Quran, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam rangka penguatan pendidikan agama dalam keluarga, yaitu:

Pertama, memberikan dorongan dan nasihat yang baik kepada anak. Sehingga mereka senantiasa mendapatkan motivasi untuk berbuat baik dan segera kembali pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan agama apabila melakukan kesalahan. Sebagaimana nasihat-nasihat Luqman yang diberikan kepada anak-anaknya (lihat QS. Liqman [31]:12-19).

Kedua, membimbing melakukan pembiasaan-pembiasaan pengamalan agama di lingkungan keluarga. Misalnya membiasakan selalu berdoa, mengucapkan salam, mencium tangan orangtua, melaksanakan shalat di awal waktu, berbuat baik kepada saudara dan tetangga serta pembiasaan-pembiasaan sikap dan perbuatan baik lainnya yang diajarkan agama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed