oleh

Pemkot Tarakan Siapkan 6 Tahapan Pembuka dari Relaksasi PSBB

TARAKAN – Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes bersama Forkopimda dan para tokoh agama serta beberapa instansi teknis terkait melakukan rapat koordinasi relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang akan mulai dilaksanakan secara bertahap di Kota Tarakan.

Dari rakor tersebut diinformasikan bahwa pelaksanaan peribadatan di rumah-rumah ibadah per 5 Juni 2020 sudah dapat kembali diselenggarakan, tentu harus memenuhi syarat memenuhi dan ketentuan yang termuat dalam Surat Edaran Walikota Nomor : 180/383/HUKUM/2020.

“Memang ada 6 tahap pembukaan dalam pelonggaran-pelonggaran itu kita siapkan, yang kita harapkan semua masih mematuhi. Karena kita perlu persiapan, termasuk menyiapkan semua pelaku usaha harus kita siapkan dulu setelah itu baru jalan bersama upaya pencegahan (Covid-19) harus dijalankan. Tapi kita juga paham mereka juga perlu berusaha,” ujar dr. H. Khairul, M.Kes kepada benuanta.co.id, Kamis (4/6/2020).

Orang nomor satu di Tarakan ini juga menyampaikan agar masyarakat tak salah kaprah ketika adanya tahap pelonggaran ini membuat kegiatan bisa berlangsung bebas dan mengabaikan protokol kesehatan.

“Sekali lagi, bahwa jangan sampai panas tahun ini dihabiskan hujan satu hari, karena kecerobohan kita. Apa pun namanya, mau new normal, atau pelonggaran PSBB kah. Itu akan tetap mengacu pada protokol kesehatan yang ketat,” terangnya.

“Protokol kesehatan ini diberbagai unit kan ada yang berbeda. Ada spesifikasi dari setiap sektor juga beda. Jadi perlu kita sosialisasikan, perlu kita minta komitmen dari mereka. Seperti rumah ibadah yang kita minta buat pernyataan, bahwa mereka sanggup menjalankan protokol kesehatan ditempat tersebut. Termasuk nanti di sektor atau tempat usaha,” tambahnya.

Dari setiap tahapan yang bertujuan agar masyarakat kembali produktif ini, kata dr. Khairul, implementasinya juga bakal dilakukan monitoring oleh pemerintah, lantaran kondisi pandemi masih terus ada.

“Masalah besar kita sekarang ini ada dua, yaitu pandemi dan ekonomi. Bagimana kita bisa menjalankan ekonomi di tengah pandemi ini, tentu harus ada kesepahaman dan kepatuhan yang besar terhadap protokol kesehatan,” katanya.

Bila kedepannya ada temuan kasus baru pada tempat-tempat yang sudah ditentukan secara bertahap ini memiliki risiko penularan yang cukup tinggi, lalu apakah kembali ditutup atau tidaknya kegiatanya itu, ia menuturkan akan melakukan evaluasi setiap seminggu sekali.

Sebab, hingga kini belum adanya jaminan akan wabah yang menyerang sistem pernafasan ini tak kembali bergejolak terhadap kegiatan yang dilonggarkan nantinya.

“Bukan lagi dua minggu sekali, tapi seminggu sekali kita evaluasi. Karena faktor risiko yang cukup tinggi, kita evaluasi seminggu sekali. Supaya jika ada sesuatu terjadi, kita bisa cepat melakukan tindakan untuk langkah selanjutnya seperti apa,” tandasnya.(*)

 

Reporter : Yogi Wibawa

Editor : M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed