JUGA MINTA PEMERINTAH KAJI LEBIH JAUH DEMI MENJAGA PENGUSAHA KECIL
TARAKAN – Masuknya bisnis retail Alfamidi di Tarakan memang memperlihatkan semakin majunya perekonomian daerah tersebut. Namun tak bisa dipungkiri, hal itu tak lepas dari pro kontra di tengah masyarakat.
Ketua Umum (Ketum) BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tarakan, Jufri Budiman mengaku bangga dan bersyukur dengan masuknya Alfamidi. Hal itu menurut Jufri memperlihatkan perputaran ekonomi makin bagus di Tarakan. Apalagi Alfamidi ini sudah menggurita di mana-mana, yang hampir di seluruh daerah di Indonesia sudah masuk.
Namun di samping itu, Jufri melihat ada ancaman bagi pengusaha kecil, toko-toko kecil bahan pokok, pedagang kaki lima, hingga UMKM lainnya dengan hadirnya Alfamidi. Sebab dikhawatirkan pengusaha kecil ini akan kalah bersaing dan bisa membuatnya tergulung.
Baca Juga: Alfamidi Belum Kantongi Izin, Disdagkop Tarakan Bakal Tutup Paksa
“Belajar dari daerah yang sudah masuk Alfamidi, kasian kita lihat pedagang UMKM, kaki lima, toko kecil yang menjual bahan pokok, sangat terdampak dengan masuknya Alfamidi. Karena bukan satu atau dua minimarket (yang berdiri, Red.), kadang bisa lebih dari tiga,” jelasnya kepada benuanta.co.id.
Jufri mengaku tidak mempersoalkan hal itu. Namun kalau pun tetap akan berdiri di Tarakan, perlu lebih dulu dilakukan kajian dengan pertimbangan keberlangsungan usaha pedagang-pedagang kecil lainnya di Tarakan. Sebab jika tidak, bisa jadi usaha mereka yang hanya satu-satunya yang menjadi harapan untuk menghidupi keluarga, dengan masuknya Alfamidi akan membuat omzet berkurang atau sampai gulung tikar.
“Saya berharap Pemkot dalam hal ini Pak Walikota, coba kaji kembali, berikan ruang kepada pedagang-pedagang kaki lima supaya Alfamidi dibatasi membuka toko di Tarakan. Kita harus juga melihat masyarakat kita,” harap Jufri.
Memang dengan adanya Alfamidi, kata pria yang juga anggota DPRD Provinsi Kaltara ini, bisa membuat konsumen nyaman berbelanja, karena difasilitasi dengan ruangan bagus, ber-AC dan barang yang dijual agak lengkap. Namun hal itu akan membuat warga lebih memilih berbelanja di Alfamidi, sehingga membuat pendapatan pedagang kecil lainnya anjlok.
“Saya berbicara atas nama ketua HIPMI, jadi saya merasakan dampak jika Alfamidi berdiri di Tarakan. Jujur saya sedih melihat saudara-saudara untuk bertahan hidupnya, karena akan kena dampaknya,” terangnya.
Untuk itu Jufri Budiman berharap Walikota Tarakan mengundang pelaku usaha, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh wanita dan pihak terkait lainnya yang kehidupannya bergantung dengan menjual barang pokok, untuk diajak diskusi dan mengkaji dampak berdirinya Alfamidi di Tarakan.
Melihat pengalaman di daerah lain, Jufri melihat Alfamidi hingga Alfamart memang menggurita. Hanya dalam jarak ratusan meter saja sudah ada minimarket tersebut berdiri. Pihaknya pun berbicara tidak disusupi kepentingan atau dorongan dari pengusaha supermarket besar di tarakan. “Sekali lagi saya berbicara sebagai Ketua HIPMI, ini perlu dibahas cepat, jangan sepihak,” urainya.
Sehingga, dengan ini Jufri menyampaikan beberapa poin untuk dipertimbangkan pemerintah daerah sebelum mengeluarkan izin Alfamidi yang kabarnya belum direstui pemerintah. Pertama; batasi Alfamidi masuk Tarakan. Kedua; berikan ruang diskus dan ajak kerja sama pedagang kecil atau toko. Misalnya seperti sewa bangunan dan lainnya renovasi lainnya.
“Contoh bisa berkolaborasi (dengan pedagang, Red) atau ada kerja samanya. Sehingga pedagang merasa tidak ditinggalkan dan tetap bersama, agar mereka merasakan dampak positifnya,” sarannya.
Meski berharap ada pembatasan jumlah gerai yang akan dibangun di Tarakan, Jufri tak menampik hadirnya minimarket ini juga memberi dampak positif di Tarakan. Karena dengan berdirinya Alfamidi ini juga dapat menyerap tenaga kerja. Sebab pasti Alfamidi membutuhkan karyawan.
“Jadi kalau masuk (Tarakan, Red.) tolong langsung libatkan tenaga-tenaga dari Tarakan. Seperti untuk bagian buruh kasar dan penjaga toko, orang Tarakan pasti siap. Jadi bisa membawa dampak positif. Tapi sekali lagi tetap harus ada pengkajian kembali,” tegasnya.(*)
Reporter: M. Yanudin







