oleh

Merajut Hikmah di Perjalanan 3 Negara ASEAN (Part Thailand)

Oleh : Muh. Ramli

(Founder Komunitas Muslim Inspiratif)  

ADA banyak hal yang saya sukai dari Negeri Gajah Putih ini. Di antaranya adalah film, minuman Thai Tea, makanan khas Tom Yan dan tentu juga dialek bahasanya. Setelah menempuh perjalanan Sembilan jam dari Kuala Lumpur, kami sampai di bagian imigrasi. Imigrasi Thailand tidak seribet dan seketat di imigrasi Singapura. Maka tidak heran jika bagian imigrasi selalu padat oleh wisatawan dan travelers dari belahan dunia.

Meninggalkan Kuala Lumpur dan menuju Thailand memerlukan delapan hingga Sembilan jam perjalanan dengan akses darat. Tetapi jika di tengah jalan terjadi kemacetan bisa mencapai dua belas jam. Bus Zeala Asmara menurunkan kami di depan kantor imigrasi Thailand. Antrian panjang para travelers yang akan meng-explore negara dengan 18 gender ini terlihat. Kami bergabung dengan mereka dan mengantri hingga dua jam lebih. Sebuah antri terlama selama perjalanan dengan terik matahari 33 derajat celcius.

Imigrasi Thailand terkenal cepat dan mudah. kami hanya perlu membawa paspor kemudian scan jari, stempel paspor dan selesai. Tidak ada pertanyaan. Tidak seperti di bagian imigrasi Singapura yang super ketat. Setelah melewati imigrasi kami menuju Provinsi Songkhla – kota Hat Yai. Propinsi Songkhla terletak di selatan Thailand, berbatasan dengan Malaysia. Kota terbesarnya, Hat Yai. Songkhla yang dikenal sebagai kota Melayu di Thailand, berdekatan dengan perbatasan Malaysia, sehingga memiliki kemiripan budaya dengan Malaysia. Thailand Selatan memiliki 14 provinsi, di mana Songkhla merupakan provinsi terbesar ketiga, setelah Surathani dan Nakhon Si Thammarat, dengan luas wilayah 7.394 kilometer persegi.

Menikmati setiap bangunan dan perumahan di sepanjang jalan membuat kami berpikir, Thailand Selatan seperti Surabaya. Tidak banyak gedung pencakar langit yang kita temui. Juga bangunan bertingkat lainnya pun masih bisa dihitung jari. Tempat pertama yang kami datangi bukan hotel melainkan salah satu pusat pembelajaan.

Kaysorn Souvenir Shob Thailand. Kami menyempatkan berbelanja khas Thailand, meski pada saat itu saya hanya menikmati Thai Tea. Saya termasuk pecinta Thai Tea dan mendapatkan kesempatan untuk menikmati langsung Thai Tea dari negaranya. Pembuatan dan rasa Thai Tea di sini dan di Indonesia, jauh sangat berbeda. Penyeduhannya pun berbeda. Kalau di Indonesia, Teh nya sudah tersedu sendiri sehingga kita tidak menyaksikan penyeduhannya. Sementara di Thailand, penyeduhan teh nya jika ada yang membeli. Rasanya jangan ditanyakan lagi. Sangat jauh berbeda. Kalau di Indonesia, kita lebih mengedepankan rasa manis dari susu, sementara di Thailand mengedapankan rasa teh nya, namun tetap nikmat dan tidak pahit.

Rute selanjutnya setelah pembelanjaan, adalah makan siang. Guide kami yang sudah lama menetap dan menjadi warga Thailand menjanjikan menyediakan makanan khas Thailand. Tom Yan. Kami bersemangat. Apalagi saya yang memang menyukai masakan yang satu ini. Dan setelah tiba di restoran makan, sungguh luar biasa Tom Yan khas Thailand. Dan sungguh jauh berbeda dengan rasanya dengan Tom Yan buatan Indonesia. Teman-teman pecinta Tom Yan bahkan ada yang nambah dua sampai tiga kali, termasuk saya.

Memang cita rasa yang langsung dari tempatnya selalu menjadi jauh lebih baik ketimbang dihidangkan dan dijamukan di tempat lain. Selain Thailand terkenal dengan kebudayaannya, juga terkenal dengan wisata kulinernya. Maka jangan heran jika jajanan kuliner sering kita dapatkan. Untuk rasa, di jamin lezat. Atau bahasa Thailand-nya Arroy ching-ching. Untuk harga, negara Thailand termasuk negara yang aman untuk berbelanja karena termasuk murah. Untuk satu Bath (Bath adalah mata uang Thailand) sama dengan lima ratus rupiah uang Indonesia. Termasuk murah bukan?

Kami mendapatkan sambutan dari pihak hotel. Wangburapa Grand. Hotel dengan lima lantai, terletak di 89 Rajuthit Soi 5 Rd, Tambon Hat Yai, Hat Yai District, Songkhla 90110. Satu hal yang perlu diketahui bahwa orang Thailand kurang dalam bahasa Inggris, maka sebelum berangkat ke Thailand sebisa mungkin untuk mempelajari bahasanya. Meski di Songkhla banyak juga yang bisa berbahasa Melayu namun terkadang juga kita dapatkan orang-orang Thailand hanya bisa berbahasa Thailand. Termasuk pihak hotel Wangburapa Grand tidak mampu berbahasa Melayu dan Inggris, only Thailand.

Rehat sejenak. Mengistrahatkan diri. Karena jadwal sore traditional vehicle of Thailand. Mengunjungi Klonghae Floating Market dan Pasar ASEAN. Tidak jauh dari hotel tempat kami. Klonghae Floating Market merupakan salah satu Pasar Terampung yang ada di Songkhla yang menawarkan beragam kuliner yang lezat dan pementasan budaya seperti tarian khas Thailand. Untuk kehalalan tidak perlu khawatir karena kebanyak para penjualnya adalah muslim. Mereka menampakkan ciri dengan menggunakan jilbab bagi perempuan dan kopiah bagi yang laki-laki. Meski tidak terlalu fasih menggunakan Bahasa Melayu apalagi Bahasa Inggris, proses jual beli dapat berjalan lancar. Kita hanya perlu menunjuk jenis makanan yang diinginkan kemudian melihat daftar harga yang sudah tertera.

Menjelajahi bumi Allah di belahan bumi yang bukan mayoritas muslim, memberikan warning bagi setiap kami untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan. Bukan hanya perkara makanannya halal, namun harus juga dipastikan dalam prosesnya penyembelihan dan pembuatannya juga secara syar’i atau sesuai aturan agama (Islam). Sungguh, Islam sangat lengkap dalam menjaga setiap penganutnya dan menjadikan kita selalu bangga dan kagum dengan aturan yang ada.

Puas berwisata kuliner, kami melanjutkan ke Pasar ASEAN. Pasar terbesar dan termurah. Meski demikian, Pasar ASEAN lebih mendominasi penjualan pakaian. Saya sebelum menginjakkan kaki di Pasar ASEAN, memiliki ekspektasi yang luar biasa. Saya berharap bahwa di pasar tersebut menjual beragam hal yang menjadi ciri khas dari setiap negara ASEAN. Ternyata tidak. Namun yang menariknya dari pasar ini, selain murah juga menempatkan tersendiri ruang makan atau yang ingin kembali berwisata kuliner. Terletak di lantai dua yang mana semuanya hanya menjajakan makanan dan minuman.

Setelah menyusuri Pasar ASEAN kami menuju hotel dengan menggunakan transportasi wajib bagi setiap travelers atau pun yang berkunjung ke Thailand. Namanya Tuk Tuk. Kalau di Indonesia namanya angkot. Yang menjadi pembeda adalah kalau Tuk Tuk terbuka bagian belakang atau untuk tempat duduk penumpang sehingga kita lebih leluasa untuk menikmati kota Thailand jika menggunakan alat transportasi ini. Dan satu hal yang unik dan sebenarnya tidak patut untuk dicontoh, memakai helm saat berkendaraan tidak wajib dan mesti bagi warga negara Thailand. Polisi lalu lintas pun membiarkan dan menganggap yang wajar. Maka jangan heran jika berkunjung ke sana pemandangan memakai helm saat berkendaraan roda dua jarang kita dapatkan.

***

Dari lantai empat saya menikmati mentari yang telah menyapa pagi. Mentari yang sama saat kita melihatnya dari Indonesia. Jadwal kunjung berikutnya adalah Mosque visit, Thailand Cultures and Fun Activities. Sebenarnya untuk kunjungan ke The biggest mosque at Songkhla dijadwalkan kemarin, hanya saja tidak memungkinkan sehingga baru harus di –reschedule.

Setelah sarapan, kami mengunjungi The Central Mosque of Songkhla. Sebuah masjid yang besar dengan warna putih tulang. Di depan area masjid terdapat dua buah kolam yang cukup luas, sehingga tampak dari depan masjid ini terlihar seperti Taj Mahal di India atau Masjid Agung An-Nur di Riau. Hanya saja masjid Agung An-Nur di Riau berwarna hijau. Masjid dengan julukan Taj Mahal Thailand ini terletak di tengah jalan raya yang menghubungkan Hat Yai dan Kota Songkhla. Monument modern yang menawarkan desain simetris dengan kubah emas pusat di atas sebuah bangunan persegi besar diapit oleh empat menara terpisah yang menghadap ke fitur air persegi panjang.

Di negeri yang minirotas muslim, melihat sebuah masjid berdiri megah dan gagah merupakan sebuah kebahagian yang amat besar. Bertemu dengan saudara muslim yang berbeda bangsa adalah sebuah anugrah terindah. Bisa mengenal mereka dan menjalin ikatan ukhuwah Islamiyah. Di masjid ini juga tidak hanya dijadikan sebagai kegiatan ibadah sholat saja melainkan beragam kegiatan keislaman seperti pengajian, tabligh akbar dan seminar keislaman juga diselenggarakan.

Dari negeri ini, saya belajar tentang nilai Islam yang bukan hanya sebagai status dan identitas belaka. Melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan dan pengaplikasian di kehidupan sehari-hari. Sehingga kita juga menjadi bagian dari orang-orang yang mensyiarkan Islam secara tidak langsung. Dari kota Songkhla-Thailand, Allah menyadarkan diri saya, bahwa di mana pun dan bagaimana pun status kita di dunia ini tetap kita akan selalu butuh dengan-Nya. Meski lingkungan tidak mendukung kita untuk mengenal-Nya, tetapi fitrah kita akan selalu mencari-Nya dan rindu untuk menengadahkan tangan menghamba dan mendo’a kepada-Nya.

Perjalanan berlangjut ke Sleeping Buddha. Salah satu landmark yang terkenal dari kota ini. Terletak di Wat Phranon Laem Pho. Lalu melanjutkan perjalanan ke Patung Kepala Naga yang tidak jauh dari tempat Sleeping Buddha dan teraknir ke Samila Beach dengan ikon Putri Duyung. Satu hal yang tidak pernah lepas dari setiap tempat-tempat yang kita kunjungi selama di Thailand, pastinya kita akan menemukan jajanan seafood dan buah-buah.

Menapakki kaki di negeri Gajah Putih ini, memberikan kesempatan kepada saya untuk merajut hikmah bahwa setiap negara memiliki karakteristik dan cirri khas nya tersendiri. Tinggal bagaimana kita selaku warga negara mencintai negara kita dengan berbuat dan memberikan sumbangsi demi kemajuan dan masa depan yang lebih baik ke depannya. Juga, Allah menunjukkan hikmah tentang nilai toleransi yang langsung di praktekkan oleh warga negara Thailand yang mana mereka saling menghargai dan menghormati serta memiliki satu pandangan yang sama bahwa kita adalah orang Thailand dan kita memiliki hak untuk berbuat dan memilih.

Kobkun krab. Terima Thailand untuk setiap pembelajaran dari negerimu. La gon krab. Sampai jumpa kembali. Saya yakin, perjalanan di negara Thailand ini, bukanlah perjalan terakhir Karena masih banyak impian-impian menjelajahi negara di belahan bumi Allah yang lainnya. Namun yang paling penting, selalu saya tanamkan dalam diri bahwa bukan seberapa banyak negara yang telah kita datangi, tetapi seberapa banyak hikmah yang telah kita rajut sehingga menjadi inspirasi dan motivasi bagi yang lain. Bisa menjadi bagian menebarkan manfaat. Untuk mu yang masih berjuang mewujudkan impian, terus maksimalkan ikhtiar langit dan bumi. Rawat impianmu sampai Allah mengatakan kamu sudah layak. Berani bermimpi, berani mewujudkannya!(habis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed