oleh

Walikota Tarakan Imbau Masyarakat Tingkatkan Kesadaran Perangi Covid-19 dengan Social Distancing

TARAKANSocial distancing atau larangan untuk tidak berkumpul di satu tempat tampaknya masih sulit diterapkan. Penerapan social distancing bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19 di Tarakan.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes mengatakan bentuk pencegahan Covid-19 dengan penerapkan social distancing harus benar-benar dipahami oleh masyarakat umum. Sebab, untuk para pelaku usaha dalam situasi ini, ia pun tak melarang untuk tetap berjualan.

“Instruksinya pemerintah itu kan umum. Kalau dia (pelaku usaha) buka, tapi tidak ada yang datang juga, kan tidak ramai juga jadinya. Sebenarnya yang dihindari itu bukan orang tidak boleh belanjanya, tapi berkumpulnya itu yang dilarang supaya mengurangi potensi penularan. Justru penjual makanan, pasar, rumah sakit, klinik, dan puskesmas tidak boleh tutup. Karena itu kan kebutuhan orang,” ujar dr H Khairul, M.Kes kepada Benuanta.co.id.

Baca Juga :  Wujudkan Digitalisasi Pendidikan, Disdikbud Kaltara Jalin Kerja Sama dengan Eduku

“Jadi memang tidak juga kita suruh tutup, tapi orang yang datang ini semestinya harus menjaga dong. Yang dilarang bukan orang berbelanja, tapi berkumpul,” tambahnya.

Menurutnya, tingkat kesadaran masyarakat untuk tetap waspada terhadap virus yang sudah merengut nyawa baik di dalam maupun luar negeri ini harus dibenahi. Dengan cara mengikuti imbauan pencegahan dari pemerintah yang disebut orang nomor satu di Tarakan ini sangat fleksibel.

Baca Juga :  Warga Amal Lama Gelar Aksi Menolak Pembangunan Tembok Wisata Pantai Amal

“Padahal sangat flesibel sekali, diminta untuk hindari keramaian, hindari pengumpulan orang dalam jumlah banyak. Sebenarnya yang menjadi problem, mohon maaf ini. Orang yang datang ke Café untuk benar-benar serius makan, setelah itu langsung pulang jarang sekali. Di sana kan mereka datang, kongkow-kongkow sampai berjam-jam dan ini lah yang kita khawatirkan sebenarnya,” katanya.

Selain adanya edaran dari Kementerian Agama terhadap pelaksanaan acara pernikahan yang tak boleh dihadiri lebih dari 10 orang dalam satu ruangan. Pria yang pernah menduduki jabatan Sekertaris Kota Tarakan pada tahun 2013 hingga 2017 ini juga menerangkan, saat ini dalam lingkup Pemkot sudah melakukan social distancing dengan membatasi jumlah peserta ketika melakukan rapat dalam ruangan.

Baca Juga :  Motif Penikaman Gegara Pelaku Menolak Minum Alkohol, Begini Kronologisnya

“Kita rapat di sini juga dibuat jarang-jarang. Kita batasi sekali orangnya, misalnya 10 atau 15 saja dan itu juga dibuat jarak 1 meter antara satu orang ke lainnya,” tutupnya. (*)

Reporter : Yogi Wibawa

Editor : Nicky

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed