oleh

Lapangan Kerja Sulit, Ada Lulusan S2 Cari Kerja di Tarakan

JUMLAH pengangguran di Kota Tarakan terbilang masih tinggi. Namun, Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kota Tarakan punya hitungan sendiri soal pengangguran. Dari  sisi tingkatan pendidikan, berdasarkan data, terdapat 1.177 pencari kerja dari lulusan SMA. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan dalam menyiapkan SDM lulusan SMA. Sementara, pencari kerja dari lulusan SD, 33 orang dan SMP 54 orang.

“Kalau SMA ke bawah kita sebut tenaga kerja terampil atau tenaga kerja kasar. Ada yang tidak tamat SMP, SD. Kalau lulusan SMA belum ada apa-apa tuh, mau masuk dunia kerja, ini jadi kendala juga. Banyak sekali lulusan SMA. Kalau S1 ada perkembangan pola pikir, melihat peluang. Kalau yang ke bawah itu yang kita latih, itu jadi tantangan besar. Problem ini tidak hanya di Tarakan, tapi secara nasional,” ulasnya.

Data selanjutnya adalah lulusan S1 yang mencari kerja, tercatat 438 orang dan lulusan S2 sebanyak 8 orang. Dijelaskan Taufik, banyak juga pendatang lulusan S1 mencari pekerjaan di Tarakan. Menurutnya, SDM di Tarakan sudah dapat bersaing dengan SDM yang datang dari luar. Selama masih sama-sama warga negara Indonesia, dari daerah luar Kaltara pun punya kesempatan yang sama.

“Dalam UU tidak boleh membedakan selama masih di Indonesia. (Pencari kerja) dari luar ini kan sebagai konduktor, itu yang membuat kita berkompetisi. Saya rasa yang di Tarakan bisalah bersaing dengan dari luar. Dari IT kita sudah bisa akses internet, porsinya sama. Kita sering penyuluhan ke universitas, cobalah mengembangkan diri bukan persoalan organisasi, tapi cari hal yang sifatnya unik,” tandas Taufik.

“Kelas jabatan juga sudah berubah. Kalau dulu jabatan sudah dikunci. Jabatan tukang cuci, ini, ini. Kalau sekarang, ada kelas jabatan baru seperti youtuber, sekarang sudah jadi jabatan. Ini salah satu dinamika. Sekarang banyak, bahkan artis ikut disitu, ini pengaruh teknologi IT,” sambungnya.

Mau tidak mau, kata Taufik, pemerintah terus menggaungkan teknologi industri 4.0 untuk menyikapi kemajuan sistem teknologi. “Bagaimana kita menyikapi itu memanfaatkan teknologi itu, apakah hanya dalam pelayanan atau bisa kita kembangkan menjadi resources kita pada kesempatan kerja. Bukan hanya scope kecil tapi secara global,” jelasnya.

Peluang lain, kata Taufik, bagi pelaku UKM pun sangat terbuka di Kaltara. Seperti memanfaatkan sektor swasta bagi pengrajin batik, makanan khas lokal dapat dimanfaatkan sebagai peluang lapangan kerja. Itulah harapan terbesar Disnaker dan Perindustrian Kota Tarakan dari UMKM ini agar dapat menyerap tenaga kerja.

“Kita latih, bekali, kasih sarana. Minimal dapat merekrut dua orang. Nanti kalau dikalikan 20 orang, sudah luar biasa. Nanti bisa lagi berkembang kayak franchise, kita mengimbangi peluang kerja itu,” sebutnya.

Bagi lulusan S1, kata Taufik, hanya perlu diberikan pembekalan soft skill. Lulusan S1 sudah mengantongi ilmu dan wawasan karena soft skill dapat mempengaruhi individu seseorang. Bahkan, bisa mengatasi mindset pilih-pilih kerjaan tanpa mencoba membuka diri untuk mencari pengalaman diluar latar belakang pendidikannya.

“Yang dibangun sikap kita, etika, disiplin kita yang diasah, soft skill penting bagaimana membangun komunikasi, kita yakin bisa memunculkan star up kita, S1 ini sudah matang di pengetahuan, tinggal soft skill saja,” pungkasnya. (arz)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed