oleh

Desa Wisata Pulau Sapi Jadi Laboratorium Desa

OBJEK wisata Malinau paling banyak dari daerah lain di Kaltara. Sebab, pemerintah hingga warga Malinau sangat menjaga adat dan budayanya. Sehingga tak begitu sulit untuk mengembangkan pariwisata daerahnya yang sangat potensial.

Pesatnya pertumbuhan pariwisata di daerah ini, Pemerintah Kabupaten Malinau melalui Desa Wisata Pulau Sapi mendapatkan penghargaan dan meraih juara I tingkat Regional Kalimantan dan Sulawesi. Dengan penghargaan ini, tentu akan dijadikan Laboratorium desa yang menjadi percontohan di seluruh desa di wilayah regional III tersebut.

“Jadi Desa Wisata Pulau Sapi ini dijadikan Laboratorium desa. Sehingga bisa lebih maju lagi, makanya kita juga memberikan bantuan rehab senilai Rp 50 juta,” kata Direktur Perkembangan Desa Kemendagri, Eko Prasetyanto.

Sebab, kata Eko, jika telah menjadi desa percontohan dan memiliki website maka seluruh profil maupun ketiga kategori dapat disebarkan ke desa-desa lain khususnya di delapan desa Kecamatan Mentarang. “Bahkan bisa ditingkatkan ke 108 desa, hingga 446 desa dan 15 ribu desa yang ada di regional. Dan bisa antar regional Sumatera, Jawa-Bali dan NTT-Papua,” jelasnya.

Penyebaran informasi itu, mengenai tentang administrasi serta kondisi penduduk secara sistem pemerintahan. Begitu pula kondisi geogratif dan potensi yang ada di Desa Wisata Pulau Sapi. “Nah itu harus dimasukkan secara akurat sesuai dengan kondisi yang nyata. Sehingga masyarakat desa lainnya bisa mengetahui dan belajar juga. Apalagi, sudah dinyatakan desa wisata dan desa swasembada. Nah itu apa saja” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Eko, bagaimana pemerintah desa maupun masyarakat dapat merubah midset untuk lebih maju lagi ke depan melalui kegotong royongan. “Di samping itu bagaimana di desa mampu memiliki hubungan sinergitas antara pemerintah desa dan masyarakat, pemerintah desa bersama supra maupun pihak ketiga. Tujuanya demi memajukan desa,” katanya.

Apabila desa tersebut maju, kata dia, tentu yang akan terlihat majunya sebuah kecamatan, kabupaten hingga provinsi. “Bahkan ditingkat nasional juga pun terlihat kemajuannya. Karena desa itu sebagai fundamen pilar dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemasyarakatan dan ketahanan pangan di desa,” jelasnya.

Oleh karena itu, Eko berharap jajaran pemerintahan desa dalam mempertahankan dan eksistensinya sebagai desa peringkat nasional regional III beberapa langkah yang dilakukan. Yakni, membangun sisi internal desa, masyarakat desa dan fokus terhadap perencanaan pembangunan. “Terutama bagaimana mengelola anggaran belanja desa dengan baik,” ucapnya.

Dan terakhir itu, lanjut dia, pemerintah desa dan masyarakat desa harus bisa membuka diri dengan melihat desa-desa yang sudah maju di daerah lain. “Misalnya di daerah Sumatera, Jawa-Bali hingga NTT dan Papua,” pungkasnya. (hms/kik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed