oleh

Prostitusi Online di Kaltara, Sasar Siapa Saja?

Ada yang Bertarif Eksklusif, Berkedok Jasa Pijat, Bahkan Ada yang Tertipu

TARAKAN – Kemajuan teknologi menuntut sejumlah bisnis bersaing ketat. Unit bisnis pun berlomba-lomba memberikan pelayanan yang mudah dan jangkauannya tak terbatas agar memudahkan pelanggan untuk bertransaksi. Salah satunya bisnis gelap prostitusi online.

Untuk membuat jasa yang ditawarkan laris dan mudah dijangkau, maka dipilihlah beberapa aplikasi yang umum digunakan. Sebut saja twitter, facebook, instagram, MiChat, WeChat, whatsapp, telegram dan lainnya. Aplikasi ini dinilai mampu ‘mempertemukan’ mereka hingga ke tempat tidur.

Di sejumlah kota besar, bisnis ini bahkan sudah terkuak alur transaksinya dengan pengungkapan sejumlah kasus yang menyeret sejumlah nama publik figur. Dimulai dengan menawarkan jasa, transaksi lalu eksekusi di tempat tertentu. Nilai transaksinya pun tak sedikit.

Di Kalimantan Utara (Kaltara) sendiri, praktik prostitusi juga sudah menjajal media sosial sebagai tempat promosi. Cara menyampaikan jualannya juga berbeda-beda. Ada yang memancing pelanggan dengan foto profil menarik melalui pesan MiChat, twitter dan media sosial lainnya, ada juga yang membungkus jasa prostitusi mereka dengan jasa lainnya, misal pijat, salon dan lainnya.

Di Tarakan, upaya mereka tak diam-diam. Malah bukan rahasia umum lagi. Koran Benuanta juga mendapatkan beberapa aplikasi media sosial yang digunakan sebagai sarana transaksi yang dianggap sangat aman. Aplikasi ini sebenarnya diciptakan untuk memudahkan komunikasi melalui media sosial. Namun, bagi pelaku bisnis esek-esek, aplikasi ini dinilai sangat tepat untuk menjajakan bisnis esek-esek dengan komunikasi langsung dengan cara person to person. Nama aplikasi tersebut, MiChat.

Di banding Twitter, Whatsapp atau facebook, sejumlah pria hidung belang di Tarakan mengaku aman menggunakan MiChat. Aplikasi ini pun dinilai cepat mendapatkan tempat melampiaskan nafsu mereka. Namun, tak sedikit pula yang harus pusing karena ditipu wanita yang mengaku menjajakan dirinya.

Koran Benuanta pun menelusuri sejumlah informasi yang sudah didapatkan. Ternyata, aplikasi ini dipilih sebagai media pencari tempat menumpahkan hasrat seks karena jarang digunakan orang. Sebagian saja yang mengenal aplikasi ini. Di luar bisnis prostitusi, aplikasi ini juga biasa digunakan oknum pebisnis gelap kepiting bertelur dan kabarnya juga digunakan untuk bisnis gelap lainnya.

Setelah membuka aplikasi, Koran Benuanta memantau sejumlah kontak yang memiliki foto profil wanita cantik dan seksi. Beberapa kontak menuliskan ‘Bisa BO’ sebagai penyebut Booking Order. Ada juga kata status ‘Bisa BO’, ‘BO Bagi yang Serius’ dan status lainnya. Selain itu, status mereka juga dilengkapi dengan tarif. Yang tak kalah menariknya adalah, aplikasi ini juga dilengkapi dengan GPS (Global Positioning System) atau sistem navigasi berbasis satelit yang bisa mengindetifikasi lokasi para wanita seksi ini berada. Umumnya terdeteksi di jarak 200 meter hingga 2 kilometer dalam lingkungan Kota Tarakan.

Namun, Anda harus berhati-hati, posisi GPS yang tercantum dalam profil MiChat, bahkan media sosial lainnya tidak sepenuhnya benar dan akurat. GPS ini bisa saja dipalsukan lantaran telah diatur melalui aplikasi tertentu. Selain itu, foto lokasi atau hotel yang dipasang juga bisa jadi foto lama atau foto orang lain yang pernah berada di Kota Tarakan.

Sampai di sini, kedok prostitusi online mulai terkuak. Mereka ingin menipu. Mereka mengaku sebagai perantara wanita cantik dan seksi tadi. Saat transaksi sampai pada tahap eksekusi tariff dan tempat, wanita seksi yang mendapat pelanggan tadi akan menyebut perantara yang mereka sebut ‘Papi’.

“Mas harus hubungi dulu Papi,” ungkap si wanita sembari memberikan nomor handphone Papi yang dimaksud.

Alur ini kemudian diikuti. Dari Papi, Koran Benuanta mendapatkan arahan agar melanjutkan transaksi, yakni transfer sejumlah uang sebagai DP (Down Payment) atau uang muka. Mulai dari Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Modus ini pun coba ditelusuri Koran Benuanta melalui pria hidung belang yang memiliki pengalaman.

“Namanya juga ‘pengin’ mas, ya kita transfer,” kata seorang pria yang disamarkan namanya, Jo.

Usai transfer, Jo kemudian mengirimkan bukti transfer ke Papi. Tak lama, Jo pun mulai gusar. Uang yang sudah ditransfer tak menunjukkan tanda-tanda dia akan dapat menyalurkan nafsu seksnya.

“Si penipu tadi langsung menutup akunnya dan berganti nama akun, tapi fotonya tetap sama,” ungkap Jo. Setelah merasa sulit menghubungi si pria yang disebut Papi tadi, Jo pun sadar telah menjadi korban penipuan.

Tak hanya Jo, korban lainnya juga punya cerita sendiri-sendiri. Jumlah mereka diperkirakan mencapai ratusan orang. Namun, yang tertitup tadi enggan melaporkan pelaku ke pihak berwajib lantaran malu. Selain itu, laporan mereka diakui bisa saja menjebloskan mereka ke penjara lantaran terlibat dalam kasus prostitusi online. (rm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed