oleh

25 Kasus PPA Ditangani UPTD PPA Kaltara

TANJUNG SELOR – Sebelum terbentuknya UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kaltara, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kaltara sudah menangani kasus kekerasan pada perempuan dan anak sebanyak 15 kasus dari seluruh kabupaten kota.

“Setelah dibentuk 30 Agustus 2019, UPTD kembali menangani 10 kasus hingga total Januari hingga Desember 2019 sebanyak 25 kasus,” ungkap Arief Rahman SKM MPH Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kaltara kepada benuanta.co.id, 7 Januari 2020.

Dengan kasus terbanyak adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kemudian disusul kekerasan pada anak. KDRT terjadi kebanyakan berawal dari masalah ekonomi. “Rata-rata KDRT dan kekerasan anak,” bebernya.

Langkah yang harus dilakukan UPTD PPA melakukan mediasi, jika dalam perjalanannya masih ada kekerasan sudah dalam ranah hukum. “Itu sudah di tangan kepolisian, jika hasil mediasi tadi dilanggar,” jelasnya.

Arief menuturkan, usia rentan melakukan KDRT itu antara 25 hingga 30 tahun. Pemicunya adalah perkawinan usia muda, sehingga perceraian yang ditemukan banyak terjadi di usia 30 ke bawah. “Maka itulah perlunya belajar, rentan korban ini nikah muda,” paparnya.

Biasanya pelaku kekerasan adalah pria, tapi yang pernah didapati dari 10 kasus ada 1 kasus, pelakunya adalah wanita. “Dari 10 KDRT, 1 persen pelakunya adalah istrinya yang melakukan kekerasan,” ucapnya.

Dia menambahkan, untuk kekerasan pada anak, perlu pendampingan intens. Jika dalam tekanan itu biasanya banyak korban yang down. Maka sejak disakiti sudah ada petugas yang mendampinginya.

“Biasanya korban bisa jadi pelaku motif balas dendam. Maka kita tekan sejak dini, dengan memberikan bimbingan,” tuturnya.

Fungsi UPTD PPA ini juga untuk menghubungkan antar provinsi, salah satu kasusnya kekerasan anak. Pelakunya dari Balikpapan Provinsi Kaltim dan korbannya dari Tarakan. “Saat ini korban sudah di Tarakan. Dan UPTD kita satu-satunya di Kalimantan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi
Editor: M. Yanudin

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed