oleh

JSK Leadership

Oleh : Sukardy A. Hamzah, SE

(Kepala Sekretariat JSK Institute)

 

PADA kurun waktu 2002-2007, saya masih sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tarakan, yang sudah lazim bersentuhan dengan Pemerintah Kota Tarakan. Sentuhan itu tidak hanya terkait kegiatan penjenjangan kader di himpunan, tetapi tak jarang karena aksi penyampaian aspirasi yang dilakukan dalam menyikapi kebijakan pemerintah.

Karena itu, walaupun masih berstatus mahasiswa, saya sudah biasa bertemu dengan dr. H. Jusuf Serang Kasim yang lazim disebut Pak Jusuf SK atau JSK, yang saat itu sebagai Walikota Tarakan. Beliau menjabat dua periode menjadi walikota, yakni dari 1999-2009.

Pertemuan saya menjadi lebih intens ketika tahun 2010 saya dipercaya menjadi Kepala Sekretariat JSK Institute, lembaga kajian yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, depan Gedung Gadis. Sejak saat itu keseharian saya menjadi bagian dari aktivitas Pak Jusuf SK. Mengatur jadwal dan kegiatan, termasuk dalam kapasitas beliau selaku Ketua Tim Masyarakat Kaltara Bersatu (MKB). Tim yang sukses memperjuangkan Kalimantan Utara menjadi provinsi ke 34 di Indonesia.

Saya mencatat banyak julukan yang disematkan oleh masyarakat kepada Pak Jusuf SK, seperti Pemimpin Visioner, Pemimpin Bertangan Dingin, Bapak Pembangunan Tarakan. Bahkan ada sebutan nyeleneh bernada humor seperti Wagiman (Walikota Gila Taman), Wagilam (Walikota Gila Lampu). Walaupun sebutan bernada satire jenaka sebenarnya bermakna positif.

Kala itu tahun 1999 saat pak Jusuf SK dilantik sebagai Walikota Tarakan, kota ini tak lebih dari hanya mirip sebuah kampung besar, kotor, kumuh, gelap gulita, jalan sempit dan penuh lubang. Jalan Gajah Mada dulu disebut Jalan Strat Buntu, karena jalannya juga buntu, sempit dan becek. Kondisi serupa dialami Jalan Strat Lama sekarang berganti nama menjadi Jalan Kesuma Bangsa, yang telah berkembang menjadi kawasan bisnis baru di Tarakan.

Pak Jusuf SK bergerak cepat membenahi Kota Tarakan. Dibangunlah taman-taman kota, sehingga terwujudlah Taman Oval Ladang, Taman Oval Markoni, Taman Oval Lingkas Ujung serta taman Tugu 99 Bandara. Sepertinya masyarakat kala itu masih terheran-heran, kenapa walikota bikin taman di mana-mana, sehingga walikota pun dijuluki Wagiman (Walikota Gila Taman).

Waktulah kemudian yang memberikan pemahaman bahwa taman bukan hanya utilitas yang memperindah dan menjadi paruparu kota, tetapi juga tempat rekreasi warga dan tumbuhnya kuliner UMKM. Wargapun senang dan berterima kasih kepada Pak Jusuf SK.

Hal yang sama beliau lakukan di bidang infrastruktur. Jalan diperbaiki dan ditingkatkan, diperlebar, dibuatkan median tengah. Ditanami palem, pucuk merah serta bunga-bunga kecil. Terwujudlah Jalan Yos Sudarso dan Mulawarman yang lebih baik, lengkap dengan median tengah plus lampu penerangan. Kemudian disusul Jalan Kesuma Bangga dan Jalan Gajahmada.

Pada ruas jalan lain yang belum ada median juga dipasang lampu penerangan di berbagai bagian wilayah kota. Tarakan pun menjadi kota terang benderang di malam hari. Dari sini kemudian muncul istilah Wagilam (Walikota Gila Lampu).

Ada mimpi Pak Jusuf SK yang tertunda, yaitu pembangunan kota baru (new town) di Juata. Dulu sudah ada rencana land clearing untuk kota baru seluas 600 hektare dan sekitar 120 hektare telah dibebaskan pemerintah kota. Lokasi tersebut terkenal dengan istilah Sabindo. Saat itu Kantor Polres Tarakan dan Brimob Polda Kaltara dalam tahapan dan rencana dibangun di situ. Selain itu Jalan Aji Iskandar juga beliau rencanakan bisa didarati pesawat dalam keadaan emergency, oleh karenanya jalan tersebut mempunyai lebar hingga hampir 50 meter. Sayang rencana tersebut hingga kini belum bisa terwujud.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed