oleh

Mustari Ketahuan di Jakarta dari Informan Polisi dan Alat Pendeteksi

TARAKAN – Pengungkapan kasus dugaan penipuan dan penggelapan uang yang menjerat Mustari sebagai pemilik Wedding Organizer (WO) yang dibekuk di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat masih menyisakan cerita.

Bagaimana cara polisi bisa mengungkap keberadaan Mustari padahal sudah menghilang hingga ke Jakarta dari Tarakan sejak Februari 2019. Diketahui, kasus ini bermula saat korban bernama Aris mencari WO untuk acara pernikahannya dan Mustari dipilih Aris sebagai WO.

Pertemuan mereka pada Februari 2019 sudah saling sepakat menjalin kerjasama untuk acara pernikahan Aris. Mustari pun meminta uang Rp 63 juta untuk DP. Aris mentransfer ke rekening MS.
Namun, petaka datang pada 24 Februari 2019. Mustari hilang kontak hingga Aris bingung kemana mencari keberadaan Mustari. Maka dilaporkanlah Mustari ke pihak berwajib dengan dugaan penipuan dan penggelapan uang DP pernikahan.

Butuh beberapa bulan bagi polisi mencari pelaku tersebut, karena kasus ini baru terungkap pada 12 Oktober 2019. Dikatakan Kapolres Tarakan, AKBP Yudhistira Midyahwan melalui Kanit Resum IPDA Dien F Romadhoni kasus ini dapat terungkap berkat informasi dari seorang informan polisi dan alat pendeteksi milik kepolisian.

“Untuk posisinya kita ketahui melalui informan dan alat,” ungkap Dien kepada benuanta.co.id.

Beredar isu jika Mustari ditemukan karena Mustari sendiri tanpa sadar mengunggah dirinya di salah satu media sosial (Medsos) akun pribadinya dan itu menjadi petunjuk kepolisian, menurut Dien, hal itu tidak benar.

“Kalau medsos terus terang saya tidak pernah tahu apa (nama) medsosnya dia (Mustari),” jelasnya.

Sementara itu, uang DP Rp 63 juta acara pernikahan Aris yang ada di dalam rekening Mustari pada waktu itu, dari keterangan MS kepada polisi digunakan untuk tutup lubang gali lubang.

“(Uang itu dipakai untuk) tutup lubang gali lubang,” ujarnya.

Informasi yang didapatkan benuanta.co.id, tidak hanya Aris yang menjadi korban dalam kasus penipuan dan penggelapan. Namun, baru korban Aris yang melaporkan kepada polisi.

“Kalau laporan polisi baru yang mau melakukan pernikahan (Aris), kerugian kisaran Rp60-100 juta. Ada oknum polisi juga yang tertipu,” tandasnya.

Perbuatan MS ini disangka telah melanggar pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan 378 KUHP tentang penipaun dengan ancaman 4 tahun kurungan. (*)

Reporter: Ramli
Editor: Niki Saputra

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed