oleh

Perlu Resiliensi Terhadap Bahaya Narkoba

Penulis juga menjumpai seorang tahanan wanita cantik yang masih relatif muda dengan menggendong bayinya yang baru dilahirkan untuk hidup bersama dalam dinginnya ruang penjara. Saat itu juga terdapat beberapa anak balita di dalamnya. Bagaimana kualitas kehidupan  anak-anak dalam penjara tentu dapat diperkirakan bahwa itu akan sangat menyedihkan. Saya melihat bahwa kondisi lingkungan untuk mendukung tumbuh kembang yang baik menjadi sesuatu yang langka.

Dalam hal ini maka upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan menyadarkan bahwa iming-iming yang ibarat “madu “ bagi mereka sesungguhnya adalah “racun” bagi seluruh anak bangsa. Berapa anak bangsa yang akan menjadi budak narkoba dan akan menjadi beban masyarakat pada akhirnya. Berapa dari mereka yang akan kehilangan harapan serta masa depannya saat sudah  tergantung pada barang-barang haram tersebut. Bahwa sejatinya mereka sudah ikut andil dalam memupus harapan banyak anak bangsa bahkan mungkin anak keturunan mereka sendiri.

Penguatan-penguatan dari luar seperti ini tentu saja membutuhkan dukungan dari pihak lain. Minimal lingkungan terdekat dengannya yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat sekitarnya. Bila dukungan itu datang maka akan terbuka peluang walaupun mereka hidup dan berada di daerah perbatasan, yang berarti dalam risiko tinggi peredaran narkoba, tetapi mereka tidak  terpengaruh untuk menjadi penikmat, pengedar atau kurir. Gambaran kondisi  ini biasa disebut sebagai resiliens (tangguh).

Perlu Resiliensi pada Masyarakat High Risk Narkoba

Mengutip dari hasil penelitian disertasi dari Dr. Diana Rahmasari, MSi., Psi pada tahun 2018 di Universitas  Airlangga yang meneliti bagaimana sebagian remaja di Madura  bertahan tidak terjerat dalam pengaruh zat-zat terlarang itu, sementara pada saat yang sama sebagian yang lain dari mereka justru masuk dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di beberapa wilayah pulau di timur laut dari Jawa Timur itu yang dikenal dengan  “kampung narkoba.”

Dosen di Fakultas Ilmu Psikologi UNESA ini mendapatkan hasil bahwa ternyata ada 2 faktor yang melindungi mereka yang tidak terjerat yaitu faktor internal yang berasal dalam diri mereka sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri mereka. Di samping memang ada peran dari harga diri suku Madura yang cukup unik, yaitu rasamalo atau malu dalam bahasa Indonesia jika menunjukkan perilaku yang melanggar nilai agama dan kesopanan.

Faktor pelindung internalnya adalah berasal dari kemampuan pengaturan emosi si anak serta dari religiusitas yang diyakininya. Masalah regulasi emosi terutama pengelolaan proses kognitif, yaitu yang berhubungan dengan pengetahuan, dengan berlatih berpikir positif dalam merespons masalah.

Khusus terkait religiusitas adalah meningkatkan peribadatan praktik agama Islam dan memaknai praktik ibadah sebagai bentuk coping (upaya mengatasai masalah) secara religius.

Menurut pendapat penulis, maka menghubungkan konsumsi narkoba dengan  kesengsaraan pada kehidupan pasca kematian perlu untuk disampaikan oleh para tokoh agama atau para ulama. Untuk mengimbanginya juga perlu disampaikan pula bahwa sebesar apapun kesalahan dan dosa, maka tetap ada pintu ampunan Allah SWT baginya.

Sementara untuk faktor pelindung eksternal bisa datang dari dukungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam dukungan keluarga maka gaya parenting mempunyai peranan yang cukup besar. Sebuah gaya pengasuhan autoritatif dianggap mempunyai peran dukungan yang sangat baik dalam menjauhi narkoba. Gaya parenting bersifat memperkuat hubungan yang kuat dan hangat dengan anak, tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan dan displin, dapat mengembangkan secara tepat harapan serta menumbuhkan semangat, memberikan kesempatan dan keyakinan diri, memiliki empati yang baik serta menjamin komunikasi yang terbuka.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed