oleh

Perlu Resiliensi Terhadap Bahaya Narkoba

Mereka merasa bahwa menjadi pedagang sabu ataupun kurir (membawakan sabu dari satu tempat ke tempat lain), tidak terlalu berat, tapi hasilnya sangat menjanjikan. Hasil dari julan atau ngurir sabu akan jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan bekerja normal. Apalagi tidak terlalu banyak makan tenaga dan pikiran. Hanya modal nekat. Berdasarkan  pola yang ada belajar dari kasus ES, maka dapat diperkirakan bila aksi ini semakin lama akan semakin meningkat jumlah yang diselundupkan. Tentu juga setimpal dengan peningkatan jumlah bayaran yang dijanjikan.

Iming-iming materi yang sangat besar dengan “pekerjaan“ yang relatif ringan secara fisik tapi dengan risiko yang sangat besar ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi semua (remaja, pemudi/pemudi, orang dewasa) yang terbiasa berpikir secara pragmatis. Kenyataan di lapangan bahwa bagi mereka ketagihan narkoba itulah yang membuatnya akan semakin nekat. Bukan hanya cukup sebagai pengguna, tapi pada akhirnya bisa juga meningkat menjadi pengedar, kurir atau bahkan bandar.

Jadi urusan perut bisa jadi bukan menjadi yang paling utama. Seringkali sikap pragmatis juga pada akhirnya membawa life style yang buruk yang mengikutinya. Hura-hura dan foya-foya itu seringkali berhubungan dengan seks bebas, minuman keras dan bergai gaya hedonis lain.

Banyaknya penggagalan penyelundupan akhir-akhir ini juga diyakini akan semakin meningkatkan daya tawar tarif untuk para kurir sabu. Bisa jadi hal ini justru menjadi challenge bagi bagi yang berjiwa petualang.

Untuk pencegahan, sebenarnya dalam kondisi yang sudah sedemikian rupa memang langkah-langkah hukumlah yang paling cepat diambil. Opsi untuk rehabilitasi memang cukup masuk akal, tetapi tentu saja bila mereka hanya korban saja alias pemakai. Untuk pengedar, kurir dan bandar memang tidak layak untuk opsi ini.

Namun kenyataan bahwa penuhnya penjara di daerah perbatasan karena kasus sabu ini tidak menjadikan mereka “ngeri” bila perbuatannya diketahui petugas. Bahkan banyak juga yang sudah keluar dari penjara kembali mengulangi perbuatan yang sama.

Sehingga dalam hal ini perlunya upaya pencegahan yang lebih masif di mana harus disosialisasikan kepada seluruh masyarakat perbatasan khususnya yang sangat rentan (vulnerable) terhadap iming-iming itu.

Upaya yang dapat dikerjakan adalah memberi pengetahuan bahwa barang haram ini juga dapat membawa kepada kerugian secara fisik dan mental yang cukup besar. Efek narkoba pada fisik mulai kerusakan sistem syaraf, sistem jantung dan pembuluh darah, sistem pernafasan serta pada kulit. Hal ini  tentu saja pada titik tertentu akan menjadi masalah kesehatan yang berbiaya mahal.

Berurusan dengan barang ilegal itu tentu juga tidak akan jauh-jauh dari masalah hukum. Bila tertangkap akan menjadi urusan dengan para penegak hukum. Bila terbukti melanggar maka efek ikutan akan diancam hukuman penjara.

Hidup dalam penjara maka berpotensi besar kehidupan rumah tangga atau keluarganya akan “kacau“. Dalam sebuah kunjungan ke lapas, maka penulis menyaksikan bahwa orang dewasa yang terjerat hukum karena narkoba, statusnya cukup beragam. Ada yang berstatus sebagai suami atau istri bahkan ayah ataupun ibu.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed