oleh

Perlu Resiliensi Terhadap Bahaya Narkoba

Oleh : dr. Tri Astuti Sugiyatmi, MPH

BERITA tertangkapnya ES (21 tahun)  di Nunukan pada awal September ini, seorang mahasiswi semester VII di sebuah universitas swasta Makasar, yang menjadi kurir sabu-sabu untuk kesekian kalinya, sangat mencengangkan.

Ini kabarnya juga bukan aksi pertamanya, tapi adalah aksi yang ketiga kalinya.Dengan jumlah sabu yang diselundupkan makin membesar. Yang pertama berhasil menyelundupkan sabu sejumlah 0,5 kg, kemudian meningkat menjadi 1 kg pada aksi keduanya, dan yang menyebabkan dia tertangkap sabu karena mencoba mambawa sabu sampai seberat 20 kg.

Demikian juga dengan bayarannya yang juga mengikuti dengan risikonya, yaitu bila awalnya dibayar dengan Rp 15 juta, kemudian Rp 25 juta dan akhirnya mencapai Rp 90 juta. Tentu saja jumlah yang sangat besar untuk kantong mahasiswa. Sebetulnya kasus ini adalah penangkapan yang kesekian kalinya.

Berita serupa juga belum lama ini yaitu pada 26 Juli juga terkonfirmasi adanya penyelundupan sabu sejumlah total 2680 gram dari kargo di Bandara Juwata Tarakan dengan tujuan Makasar. Sementara 5 hari sebelumnya alias pada 21 Juli  2019 sebelumnya juga ada penggagalan penyelundupan oleh BNN sejumlah 38 kg sabu juga di ibukota Provinsi di Tanjung Selor.

Dari berita-berita tersebut, maka dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa wilayah Nunukan, Tanjung Selor maupun Tarakan pada khususnya dan daerah perbatasan pada umumnya dinilai wilayah yang rentan menjadi pintu masuk perdagangan narkoba internasional khususnya dari Malaysia.  Pada kasus yang di Nunukan terungkap juga bahwa ES berhubungan dengan bos besar di Malaysia.

Daerah perbatasan memang menjadi daerah yang sangat rawan penyelundupan bahan berbahaya ini. Karena secara alamiah perbatasan antar negara memang terdapat banyak titik rawan keamanan di kedua negara yang bisa jadi sudah dipelajari oleh para cukong. Bandar atau siapapun yang punya kepentingan dengan hal tersebut, mulai dari jalur darat di Tawau, kota di wilayah Sabah, biasanya lanjut ke Sebatik yang masuk wilayah Malaysia.

Dari sini akan masuk melalui jalur darat pulau Sebatik wilayah Indonesia dan dilanjutkan melalui jalur laut ke Nunukan, Tanjung Selor, Tarakan atau wilayah perbatasan lain.   Selanjutnya bisa juga melalui jalur udara menyebar ke Makasar, Samarinda dan kota lain. Ini selama ini jalur yang  sudah pernah digagalkan penyelundupannya.

Untuk wilayah perbatasan lain, juga sangat mungkin menjadi incaran karena banyak pulau kecil yang ada di sekitar Kaltara dan Kaltim, selain juga ada bandara Berau serta Tanjung Selor.

Melihat data bahwa Bea Cukai Tarakan sampai Agustus 2019 telah menggagalkan upaya penyeludupan narkoba sebanyak 45 kg, maka  dapat direrata bahwa dalam setiap bulan ada 5,63 kg yang berhasil diselundupkan. Fakta yang sangat mengerikan. Bisa jadi ada banyak lagi yang lolos namun tidak terdeteksi petugas.

Melihat frekuensi penggagalan penyelundupan narkoba yang sangat banyak, maka dapat diperkirakan bahwa kemungkinann percobaan penyelundupan itu sudah menjadi target harian dari para perusak generasi yang sangat kejam ini.

Ada beberapa hal yang menyebabkan maraknya aksi penyelundupan narkoba dari luar ke Indonesia. Kembali ke kasus gadis cantik (ES) bahwa kisah hidupnya yang pilu sebagai anak yatim piatu, menjadi alasan pembenaran dia terlibat dalam perdagangan barang haram tersebut. Keterdesakan ekonomi seringkali menjadi alasan klasik saat ditangkap. Namun yang pernah saya lihat dan dengar sendiri dari  kisah beberapanapi karena kasus penyalahgunaan maupun perdagangan sabu di lapas Tarakan beberapa tahun yang lalu adalah keengganan beberapa dari mereka untuk mencari nafkah secara halal.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed