oleh

Memilih Main Film Azab Karena Banyak Pesan Moral

TARAKAN – Berprofesi sebagai aktor film, Fredy Amir Fauzi selalu menjaga eksistensinya di dunia hiburan. Hal itu diungkapkan Fredy kala menyelesaikan proses pengerjaan film azab di Tarakan, belum lama ini.

Ferdy merupakan artis sinetron yang sering disiarkan di stasiun televisi Indosiar. Diceritakannya, banyak hikmah yang bisa dipetik kala bermain film azab.

“Jadi peran saya selalu berperan sebagai protagonis dalam film bertajuk Azab ini,” ungkap Fredy, Rabu (9/10).

Selain itu, ketertarikan dirinya bermain di film azab ini lantaran kisah yang diangkat dalam perfilman tersebut merupakan kisah nyata yang diangkat untuk memberika pesan moral yang penting. Salah satunya pesan moral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Jadi sangat senang sih bisa memerankan sebagai orang yang protagonis, karena menurut mereka saya cocok orang yang selalu di buli dan cocok sebagai protagonis,” bebernya.

Selain itu, ia mengakui sering bermain sebagai seorang ayah yang ditingali istirnya, atau ayah yang ditinggal oleh anak yang durhaka. Walaupun sempat menjadi peran antagonis, namun saat itu dirinya masih tidak terlihatb totalitas untuk memerankannya.

“Kata mereka kalau saya main di antagonis paling 70 hingga 80 persen saya bisa memerankannya, kalau orang yang terzolimin baru dia cocok,” tuturnya.

Kemudian, dalam bermain film azab ia percaya bisa menyadarkan bagi para penonton akan kehidupan dunia yang selalu mengingatkan soal karma dunia. Setelah itu manfaat lainnya seperti mengingatkan akan kematian, dan cara kehidupan duniawi yang hanya bersifat sementara.

“Jadi banyak pesan moral yang diambil, walaupun sempat dibilang netizen aga lebay, namun pesan yang disampaikan yang menjadi petikan buat kita semua,” terangnya.

Ia juga menceritakan dalam dunia perfilman ada beberapa kendala yang sering dialami dirinya dalam mengambil gambar. Salah satunya sebagai aktor maupun aktris harus pandai dalam mengontrol emosi, apalagi saat sudah mendalami peran lalu di berhentikan oleh sutradara.

“Seperti kita mau take gambar, baru di cut to cut oleh sutradara di mana kita harus pandai mengontrol emosi, apalagi ketika disuruh ulang kita harus mengembalikan emosi kita yang pertma lagi, itu menjadi kendala yang cukup sulit,” jelasnya. (*)

Reporter : Rico Jeferson
Editor : Nicky Saputra

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed