oleh

Mengenal Asuransi Syariah

Oleh: Inayah Bulqis Rasyid

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar)

TERJADINYA peningkatan kepesertaan pada asuransi syariah, tidak terlepas dari kesadaran masyarakat, khususnya umat Islam yang kian hari kian meningkat. Asuransi syariah termasuk Asuransi Jiwa Takaful, menghindari tiga hal yang dilarang dalam aturan Islam.

Yaitu; ketidakpastian, perjudian, dan minat seperti yang ditemukan dalam asuransi jiwa baru-baru ini. Kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh gharar, riba, dan maysir berimplikasi pada kemudharatan yang dampaknya langsung dapat dirasakan oleh satu pihak, meskipun pihak lainnya merasa diuntungkan.

Asuransi syariah menggunakan berbagai jenis perjanjian formal (akad muamalat) sebagai dasar operasionalnya. Contoh asuransi syariah di beberapa negara adalah mudharabah, wakalah, dan wakaf. Model-model ini adalah hasil dari alasan independen untuk menciptakan asuransi syariah yang ideal. Di lain konteks, kritik terhadap konsep tertentu adalah alasan untuk berkembang yang lainnya. Pakar asuransi syariah sedang berusaha mengembangkan konsep untuk asuransi syariah hingga saat ini.

Secara konsep dan istilah memang asuransi syariah berbeda dengan konvensional, namun secara substansi tidak ada beda antara asuransi syariah dan konvensional. Pandangan semacam ini, banyak menyebar di masyarakat jika logika yang dipakai seperti itu. Namun hakikatnya jelas berbeda antara asuransi syariah dan konvensional. Perbedaan paling mendasar terletak pada akad yang dilakukan di awal.

Asuransi Syariah memiliki DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang mengawasi seluruh produk yang dipasarkan, termasuk pengelolaan dana investasi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi, sehingga nasabah lebih yakin memilih Asuransi Syariah sebagai proteksi diri mereka. Dewan Pengawas Syariah akan memberikan sanksi bagi perusahaan asuransi yang menjalankan prosesnya tidak sesuai prinsip syariah. Sedangkan dalam asuransi konvensional tidak ada Dewan Pengawas Syariahnya.

Transaksi Asuransi Konvensional terdapat taghrir/gharar (ketidakpastian dalam transaksi), di mana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi. Dalam beberapa produk Asuransi konvensional pun riba terlihat jelas saat seseorang yang membeli polis asuransi membayar sejumlah dana atau premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak di masa depan, namun bisa saja dia tidak mendapatkannya. Karena hakekat transaksi tukar menukar uang dengan tambahan dari uang yang dibayarkan, merupakan transaksi yang mengandung unsur riba.

Kemudian bagaimana praktik yang diterapkan asuransi syariah? Berdasarkan hukum Islam untuk membuat polis takaful (asuransi syariah) harus ada subyek pokok yang berisiko, yang mana atas subyek pokok tersebut, dua pihak (pengelola dan peserta) harus menyetujui proposal (ijab) dan persetujuan (qabul), yang mana kedua pihak setuju untuk berbagi tanggung jawab dalam menyediakan jaminan materi yang memadai terhadap risiko yang nyata, tapi tidak terduga atas subyek pokok. Dengan kata lain, ketentuan dalam polis takaful (asuransi syariah) adalah proposal (ijab), penerimaan (qabul), penerbitan cover note (dokumen sementara untuk polis yang disediakan pengelola bagi peserta) dan pembayaran takaful kontribusi (al-musahamah).

Agar asuransi takaful yang berlandaskan syariah lslamiah dapat berjalan dan berkembang dalam masyarakat, maka asuransi takaful itu perlu dimasyarakatkan dan manajemennya hendaknya dilaksanakan dengan baik dan rapi, sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat luas. Masyarakat sebenarnya ingin bukti nyata mengenai suatu gagasan, ingin mendapat jaminan, ketenangan selama masih hidup dan ingin pula jaminan untuk anak turunan sesudah meninggal dunia.(*)

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed