oleh

Rp 300 Ribu Sudah Bisa Plus-Plus

MENELUSURI PROSTITUSI TERSELUBUNG DI TARAKAN

PENUTUPAN lokalisasi di Kaltara pada 2019 sudah tidak bisa ditawar lagi. Meski begitu, bukan berarti praktik dan tempat prostitusi bisa dimatikan begitu saja. Bengawan Indah, Karang Agas , dan Harapan Sadar adalah bagian kecil dari prostitusi kasat mata di Kaltara. Lalu, bagaimana dengan prostitusi terselubung lainnya? Apakah prostitusi bisa ditekan dengan penutupan tiga titik lokalisasi ini saja?

==========

“Ini hidup, wanita si kupu-kupu malam

Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga

Bibir senyum kata halus merayu memanja

Kepada setiap mereka yang datang..”

Lirik lagu “Kupu-Kupu Malam” yang diciptakan Titiek Puspa dan dipopulerkan Peterpan pada dekade 2000-an, memang sangat menyentuh. Lagu yang mengisahkan tentang “Kupu-Kupu Malam”, sebagai kata kiasan dari PSK (Pekerja Seks Komersial), WTS (Wanita Tuna Susila), dan sebagainya.

Kini, “Kupu-Kupu Malam” di lokalisasi prostitusi sedang menunggu nasib. Indonesia tanpa lokalisasi prostitusi pada 2019, bak petir di siang bolong bagi si “Kupu-Kupu Malam”. Bagaimana tidak, profesi mereka sebagai wanita penghibur di tempat itu bakal tak bisa dijalankan lagi. Dengan begitu, tak ada lagi pemasukan tetap jika lokalisasi ditutup pemerintah.

Apa daya si “Kupu-Kupu Malam”, hanya bisa mengikuti maunya pemerintah. Hati dan pikiran pastinya bercampur aduk. Ada suka ada duka. Meski penutupan dibarengi dengan biaya untuk mereka (WTS), pasti di antaranya ada yang kecewa.

Tak hanya si “Kupu-Kupu Malam”, nafsu tinggi “Pria Hidung Belang” bakal membingkai di pikiran jika lokalisasi prostitusi ditutup selamanya. Si “Kupu-Kupu Malam” hanya tinggal bayangan bagi si penikmatnya. Suara manja serta cubitan genitnya hanya tinggal di ujung mata.

Di balik itu semua, apakah prostitusi benar-benar tak akan lagi ditemukan, serta suara manja dan cubitan genit si “Kupu-Kupu Malam” tak lagi ada? Faktanya, saat ini masih banyak lokasi prostitusi yang tumbuh subur di Kaltara. Salah satunya di Tarakan.

Tempat prostitusi dirangkai rapi agar praktik prostitusi tak diketahui banyak warga sekitar. Bahkan, beberapa tempat malah blak-blakan menyuguhkan praktik prostitusi. Parahnya lagi, lokasi prostitusi ilegal itu telah berdiri lumayan lama di Bumi Pagun Taka-sebutan lain Kota Tarakan.

Kedok tempat protitusi pun beragam. Mulai dari pelayanan pijat refleksi, hingga salon kecantikan. Agar tak dicurigai, lokasi protitusi ilegal itu berdampingan dengan pemukiman warga. Untuk memastikan apakah benar tempat itu menyuguhkan layanan plus-plus, Koran Benuanta pun melakukan penelusuran di beberapa pijat refleksi di Tarakan.

Salah satu yang menjadi sasaran adalah salah satu pijat refleksi yang beralamat di Karang Anyar. Dengan memposisikan diri sebagai tamu, pewarta pun mulai menanyakan tarif pijat refleksi di tempat tersebut di ruangan depan. Di ruangan itu, saat itu ada tiga wanita cantik berkulit putih menyambut.

Tak ada meja pelayanan bagi tamu untuk sekadar mengetahui lembaran kertas promosi daftar harga pijat. Di ruangan itu hanya tersedia kursi sofa hitam les merah, tempat tiga wanita berbaju merah itu duduk. Dengan ramahnya, salah seorang dari tiga wanita tersebut mulai menyapa. “Mau pijat mas. Masuk aja mas,” suara lembutnya menyambut tamu.

Tak ada kesan tempat pijat seperti biasanya. Wanita yang menyambut pun seperti sudah tahu setiap laki-laki yang datang adalah penikmat sentuhan mereka. Anehnya lagi, salah seorang dari wanita itu terlihat santai menikmati asap tembakau dari tangan kirinya.

Ia tak menghiraukan dengan kedatangan Koran Benuanta yang menyamar melakukan investigasi. Hanya satu wanita yang aktif dan terlihat sangat membutuhkan pemasukan pagi itu. “Baru buka kok mas. Kita nggak ada brosur, itu di dinding harganya mas,” suara wanita itu masih merayu sambil menunjuk arah dinding.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed