oleh

Tiga Arena Dihancurkan, Begini Tanggapan Pesabung Ayam

TARAKAN – Tiga lokasi sabung ayam di Tarakan yang digerbek aparat gabungan dari TNI-Polri, Satpol PP beserta MUI Tarakan, belum lama ini ternyata menyita banyak perhatian. Tak terkecuali para pesabung ayam yang kesehariannya bergantung nasib dari arena perjudian tersebut.

Sebut saja namanya Wala, pria berambut gondrong ini merasa mata pencariannya terganggu dengan adanya pembongkaran arena sabung ayam tersebut. Menurut Wala, meski arena sabung ayam identik dengan perjudian, namun aktivitas tersebut dapat menambah pundi-pundi perekonomiannya.

Wala sudah bergantung nasib di arena perjudian sabung ayam sejak lama. Sebelumnya, Wala merupakan mantan perampok yang cukup eksis di perairan Kaltara. Dengan adanya arena sabung ayam tersebut, Wala mulai banting stir menjadi pesabung ayam dan akhirnya memilih aktivitas tersebut sebagai mata pencariannya.

“Saya dulu keluar masuk penjara sudah dua kali. Saya juga perampok, saya juga sering masuk penjara. Kalau saya merampok lagi pasti masuk penjara lagi, mending saya cari makan di sini (arena sabung ayam) biar tidak merampok lagi,” akunya saat ditemui benuanta.co.id.

Atas pembongkaran itu, Wala pun menjadi bingung harus bekerja apalagi. Sebab, Wala yang merupakan mantan perampok dan dua kali masuk dipenjara ini memang tak memiliki pekerjaan tetap selain berkutat di arena sabungan ayam.

Diakuinya, jika arena sabung ayam tersebut dibongkar dan tidak kembali beraktivitas seperti biasanya. Maka ia dan rekan-rekannya yang lain bisa saja kembali ke pekerjaan lama sebagai perampok di perairan Kaltara.

“Tarakan ini semakin maju, lapangan pekerjaan juga semakin susah. Apalah daya kami yang tidak punya keahlian khsus seperti pekerja lainnya. Kalau begini sudah tidak ada lagi pekerjaan, tidak ada sudah uang untuk keluarga. Mana lagi anak-anak saya masih kecil, saya jadi bingung mau kerja apa,” tuturnya.

Senada dengan Wala, Meron juga pesabung ayam yang enggan disebutkan namanya ini mengaku sangat kaget dengan pembongkaran arena sabung ayam tiga lokasi sekaligus di Tarakan. Sebab, kata dia, perjudian di Tarakan tak hanya terfokus di arena sabung ayam saja. Namun masih banyak bentuk perjudian lain yang berkembang di Tarakan.

“Kita ini jauh dari tempat pemukiman warga, bisa dibilang lah di dalam hutan sangat jauh. Kenapa tempat perjudian seperti di tengah-tengah kota tidak digerbek sama aparat dan pemerintah. Seharusnya kalau digerbek tempat judi, di tengah kota di sana juga harusnya digerbek,” sebutnya.

Ia berharap tempat perjudian seperti ding-dong dan togel yang merebak di tengah perkotaan seharusnya sejak lama menjadi perhatian pemerintah Tarakan. Ia mengaku pernah beberapa kali masuk ke tempat perjudian yang berada di tengah kota Tarakan. Diakuinya, beberapa tempat judi ada yang dekat dengan salah satu sekolah di Tarakan namun hingga kini tak terusik.

“Perjudian seperti ini memang dilarang. Tapi kami akui memang kami tidak bisa bekerja seperti orang biasanya. Karena pendidikan kami juga tidak tinggi. Lapangan pekerjaan kalau dibuka pemerintah Tarakan seluas-luasnya untuk kami, kami berjanji akan tinggalkan perjudian seperti ini,” pungkasnya.

“Asal ditau saja, banyak dari kami ini sebelumnya kerja dari bagian kejahatan. Kami juga bagian dari orang-orang yang tak pernah segan. Saya pribadi khawatir teman-teman kami yang lain kembali menjalankan kejahatan, karena arena-arena sabung ayam sudah ditutup. Tapi mudah-mudahan saja tidak mereka kerjakan lagi,” sambungnya. (*)

Reporter : Hamka Bhumi Perkasha

Editor      : Nicky Saputra

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed