oleh

689 Orang Kelompok ISIS Mau Pulang ke Indonesia, Kasbangpol Tarakan Lakukan Pengawasan Dini

TARAKAN – Kepulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan ISIS di Timur Tengah ke Indonesia menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Namun begitu, kepulangan 689 mantan teroris tersebut tak dipermudah. Sebab, Presiden Jokowi tampaknya tak memberikan restu kepulangan tersebut.

Presiden Jokowi menganggap kelompok ISIS tersebut bukanlah WNI, namun ISIS eks ISIS dan bukan ISIS eks WNI. Oleh sebab itu, hingga kini keresahan akan kabar kepulangan ratusan kelompok ISIS yang mengaku sebagai WNI itu tak kunjung terealisasi.

Mengenai hal itu, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan, Muhammad Haris, menuturkan bahwa akan tetap dilakukan pengawasan di Kota Tarakan melalui Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Daerah (FKDMD).

“Tentu Kesbangpol bersama FKDMD dan semua stakeholder juga akan tetap menjaga kondusifitas yang di Tarakan. FKDM juga tetap melakukan pengawasan dini, karena ini masih tahun anggaran ini masih di Januari, memang kita akan mengundang melalui tim dan SK nya sudah dibuat, bahkan ketuanya juga pak Walikota,” ujar Muhammad Haris kepada Benuanta.co.id, Kamis (13/2).

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya tentu akan mengikuti arah dari kebijakan pusat terkait pengawasan ke depanya.  “Bahwa pertama memang sudah ada peryataan Presiden untuk rencana pemulangan eks ISIS tersebut. Kalau bicara dari aspek kemanusian memang (WNI), tapi dari aspek legal baik dari para pakar-pakar hukum internasional juga sudah mengatakan sudah bukan warga negara kita . Artinya bukan menjadi tanggungan, bahkan dunia-dunia yang ada terkait dengan ISIS pun juga menolak kan,” katanya.

“Ada pun inventaris terhadap beberapa orangnya itu menjadi tanggung jawab mereka di pusat lah ya. Karena mereka dari aspek kemanusiaanya seperti anak-anak, ya mungkin anak-anak saja yang diselamatkan,” sambungnya.

Meski begitu, ia menyebut hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya indikasi terjadinya radikal atau mantan ISIS yang masuk di Tarakan. “Saat ini belum ada, karena memang setiap tahun kita diberikan anggaran dari pemerintah untuk bersama-sama terlibat, bukan hanya dari unsur instansinya tapi secara personal ada intelijen kita. Kita tetap intens melakukan pengawasan sehingga hal-hal yang mengarah kepada potensi terjadinya radikal kita sudah bisa antispasi sedini mungkin,” terangnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tak khawatir terakit adanya isu kepulangan ISIS tersebut.  “Kita juga jangan terlalu resah dengan adanya isu tersebut, yang pasti pemerintah pusat juga tidak tinggal diam apa lagi sudah dari Presiden yang memberikan pernyataan itu. Walau pun memang ada kontroversi itu hal-hal yang biasa, karena memang di Indonesia ini kan beragam ya,” tutupnya. (*)

Reporter : Yogi Wibawa

Editor : Nicky Saputra

 

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed