oleh

Memilih Tinggal di Hutan Bersama Istri dan 3 Anaknya yang Masih Balita

BERSYUKUR MENDAPATKAN BANTUAN BAZNAS DAN DINSOS TARAKAN

TARAKAN – Edi Mukthar (30), warga Juata Krikil memilih tinggal di dalam hutan ketimbang bermukim di pemukiman penduduk. Edi tak sendiri, ia membawa istri serta 3 orang anaknya yang masih balita.

Lokasi tempat tinggal Edi bersama keluarganya itu terbilang cukup jauh dari pemukiman warga lainnya. Untuk bisa sampai ke rumah Edi, membutuhkan waktu kurang lebih 25 menit.

Jalan menuju rumah Edi pun terbilang tak mudah. Sebab, untuk bisa sampai di kediaman Edi harus melalui beberapa jalan berliku serta anak sungai.

Tinggal di hutan bukanlah suatu yang diinginkan Edi. Sebenarnya ia juga ingin hidup berdampingan dengan warga lainnya.

Namun begitu, Edi tetap harus menjauh dari warga lainnya lantaran penyakit sang istri yang sering kambuh.

Edi mengaku istrinya memiliki penyakit psikis atau gangguan jiwa. Jika penyakit sang istri kambuh, biasanya melakukan hal-hal yang tal diinginkan.

Lantaran hal itulah, Edi tak ingin warga yang tinggal didekatnya terganggu dengan penyakit istrinya tersebut.

“Istri saya penyakitnya suka kambuh, hal itu yang terkadang membuat resah warga sekitar,” ujar Edi Mukthar kepada benuanta.co.id saat disambangi benuanta.co.id.

Edi pernah mencoba untuk menyewa tempat tinggal di tengah pemukiman warga lainnya, namun saat pulang dari bekerja, ia mendapati istrinya dengan kondisi yang tidak normal, yakni berkelahi dengan tetangga.

“Tidak mau merepotkan tetangga, saya takut kedatangan keluarga kami tidak disukai jadi lebih baik kami tinggal di hutan saja,” jelasnya.

Edi juga mengaku telah tinggal di hutan sejak tahun 1980 bersama dengan orangtua, setiap hari pekerjaannya sebagai buruh pelabuhan di Tengkayu II Tarakan.

“Dalam sebulan saya terkadang menghasilkan Rp. 200.000 atau Rp. 150.000, dan juga pernah hanya membawa pulang uang sebesar Rp. 5000 saja,” ungkapnya sambil berlinang air mata.

Saat ini 3 anaknya dititipkan di panti asuhan, sedangkan 3 anak yang lainnya tinggal bersamanya karena masih balita. Banyak diantara anaknya yang mengalami gizi buruk karena kondisi perekonomian dan lingkungan keluarga.

Pantauan benuanta.co.id, jarak dari Jalan Aki Balak menuju kediaman Edi sekitar 1 kilometer, dan sekitar 700 meter harus menempuh perjalanan menyusuri sungai, luas gubuk hanya sekitar 4 m². Bantuan dari Baznas dan Dinas Sosial secara rutin diberikan kepada keluarga Edi Mukthar.

Di tengah penderitaannya, Edi juga mengungkapkan rasa syukur karena sangat banyak bantuan yang diberikan kepadanya dari pemerintah maupun instansi sosial di Tarakan.

“Berkat bantuan yang selalu ada, Insya Allah kebutuhan kami setiap hari sangat terlengkapi, saya sangat berterimakasih,” tutupnya. (*)

Reporter : Matthew Gregori Nusa
Editor : Nicky Saputra

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed