oleh

Soal Pemutusan Kontrak Dosen, Ini Penjelasan PDD Politeknik Nunukan

NUNUKAN – Beredarnya pemberitaan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap beberapa dosen tetap dan staf Politeknik di Pendidikan di Luar Domisili Politeknik Negeri Nunukan (PDD Poltek Nunukan), Ketua PDD Politeknik Negeri Nunukan, Arkas Viddy, SE, MM, PhD  angkat bicara.

Arkas mengatakan, Program Studi Diluar Domisili (PDD) Politeknik Negeri Nunukan masih merupakan rintisan Politeknik Negeri di bawah pembinaan Politeknik Negeri Samarinda. Pembinaan ini dilakukan untuk mengantar PDD Politeknik Negeri Nunukan menjadi Negeri Penuh atau biasa disebut dengan Satker (Satuan Kerja).

Bersama dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, maka Politeknik Negeri Samarinda melakukan pembinaan sejak Oktober 2014 sampai dengan saat ini. Semua persyaratan negeri sudah diajukan, bahkan sudah disetujui oleh Kementerian Ristek dan Dikti, dan sekarang tinggal menunggu di-SK-kan.

Baca Juga: Habis Disekolahkan, Dosen Poltek Nunukan Diputus Kontrak Lewat WhatsApp

Sebagai perbandingan dari seluruh PDD yang ada di Indonesia, kurang lebih 60 PDD, hanya PDD Politeknik Negeri Nunukan yang sudah disetujui. Bahkan semua aset sudah diserahkan ke Kementerian Ristek dan Dikti, kemudian disusul PDD Akademi Komunitas Yogyakarta.

Selama menunggu penegerian itu, maka pembiayaan diperoleh dari dana hibah Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kementerian Ristek dan Dikti dan dana SPP mahasiswa atau biasa dikenal dengan PNBP.

Permasalahan yang dihadapi seluruh PDD yang di Indonesia saat ini adalah dihentikannya pembiayaan dari Kementerian (APBN), padahal dijanjikan sebelumnya sampai dengan tahun 2021, sementara keuangan Pemerintah Kabupaten Nunukan semakin berkurang yang berdampak pada sebagian operasional PDD, bisa dilakukan dengan status terutang.

“Selama ini bantuan Pemerintah Kabupaten Nunukan sangat luar biasa, mulai dari penyediaan lahan, bangunan, aset dan lain-lain yang terhitung kepada PDD Politeknik Negeri Nunukan. Saat ini memang kondisi keuangan seluruh kabupaten kota termasuk Nunukan mengalami penurunan,” kata Arkas kepada benuanta.co.id, Rabu (22/1/2020).

Di sisi lain perkuliahan harus tetap berjalan diiringi dengan pengurusan proses kemandirian, namun kenyataannya sumber dana tidak mencukupi. Hal ini memang merupakan keputusan dilematis, dan manajemen PDD sempat mengadakan rapat dengan memaparkan beberapa pilihan dan sekaligus meminta masukan jika ada pilihan lain yang lebih baik dengan kondisi sumber dana yang ada.

Dengan memperhatikan Keputusan Rapat Senat Politeknik Negeri Samarinda Tanggal 27 Desember 2019 lalu, bahwa pengelolaan PDD harus disesuaikan dengan kecukupan dana. Diambillah kebijakan dilematis, yang harus dilakukan dan adalah bagaimana mahasiswa Politeknik Negeri Nunukan yang berjumlah mendekati angka 500 mahasiswa, agar tetap bisa kuliah dan terselamatkan.

“Yaitu dengan mengadakan rasionalisasi. Kebetulan pada waktu itu bertepatan habisnya masa kontrak seluruh staf dan sebagian dosen tetap,” terangnya.

Ia juga telah menjelaskan kepada mereka bahwa apabila kondisi sumberdana mencukupi atau sudah keluar Surat keputusan (SK) penegerian, mereka akan dipanggil kembali. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menyelematkan mahasiswa agar tetap kuliah dan sampai di wisuda.

Untuk memberi kesempatan kesemua staf dan dosen kontrak tersebut, semua dipersilakan mengikuti seleksi interview yang dilakukan oleh pihak independen untuk formasi yang telah dibuat seminimal.

“Sebenarnya tidak ada istilah non job, karena pada dasarnya semua sudah habis kontraknya. Karena PDD tidak mempunyai kemampuan untuk membayar mereka, jadi dengan berat hati sebagian dari mereka tidak bisa diperpanjang,” bebernya.

Lanjut dia, dalam dunia pendidikan juga tidak mengenal namanya non job, karena semua dosen adalah tenaga fungsional dengan tugas utama melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Selama ini untuk mencukupi kecukupan dosen, maka PDD Politeknik Negeri Nunukan telah memberikan beasiswa kepada 12 putra/putra Nunukan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Pada salah satu klausal kontrak beasiswa tersebut, mereka harus melaksanakan tugas di PDD Politeknik Negeri Nunukan dengan formulasi 2n+1, atau apabila dia kuliah selama 2 tahun berarti dia harus mau melaksanakan tugas selama 5 tahun. Sebagian penerima beasiswa ini gagal paham dengan ini.

Klausal ini merupakan kewajiban dari penerima bea siswa dan hak dari pemberi bea siswa. Selain itu pengertian melaksanakan tugas pada kontrak bea siswa bisa saja sebagai dosen tetap, atau dosen luar biasa. Selama ini semua yang diberi bea siswa yang sudah selesai sudah diberi tugas, ada sebagai dosen tetap, dan ada sebagai dosen luar biasa tergantung kapan mereka selesai.

Yang tepat waktu selesainya sempat diangkat menjadi dosen tetap karena kondisi anggaran memungkin. Namun ada yang agak lambat selesainya dan selesai pada saat kondisi keuangan tidak memungkinkan, tetap kita fungsikan sebagai dosen luar biasa, dosen luar biasa tersebut adalah Eka Sisca Contesa.

Mengenai sebagian kecil yang dipanggil dulu, itu memang benar mengingat semua staf habis kontraknya per 31 Desember 2019, sementara perkuliahan sudah dimulai 6 Januari 2020.

Untuk mengantisipasi perkuliahan ini, maka dipanggil beberapa staf dan dosen sebagai Pelaksana Tugas harian agar kuliah bisa tetap berjalan. Namun diingatkan kepada mereka juga bahwa mereka hanya pelaksana tugas sementara, dan mereka juga harus mengikuti seleksi interview yang dilaksanakan tanggal 10 Januari 2020.

Keputusan ini memang dilematis, dan sangat berat tapi tujuan manajemen PDD Politeknik Negeri Nunukan semata-mata menyelematkan perkuliahan mahasiswa dan sekaligus menyelematkan penegerian PDD Politeknik Negeri Nunukan.

“Percayalah ini hanya sifatnya sementara, inilah namanya perjuangan. Politeknik kita ini sedang berjuang, untuk dunia pendidikan di wilayah Kalimantan Utara, tolong didukung sepenuh hati. Yakinlah kita akan meraih kesuksesan dan kita semua akan bergabung lagi untuk membangun dan membuat Politeknik Negeri Nunukan menjadi besar,” imbuhnya. (*)

 

Reporter: Darmawan

Editor: M. Yanudin

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed