oleh

DPRD Minta Pemilik SPBU Sengkawit Tegas Berantas Pengetap

TANJUNG SELOR – Tindak lanjut dari sidak DPRD Kabupaten Bulungan beberapa hari lalu di SPBU Sengkawit, Selasa 14 Januari 2020 tadi dilakukan rapat bersama pemilik SPBU Sengkawit.

Hadir beberapa OPD dari Pemprov Kaltara dan Pemkab Bulungan. Lalu dari kepolisian dan Kodim serta Satpol PP.

“Kita masih berkutat pada persoalan pengetap, sepertinya menjadi biang masalah. Yang kadang BBM sulit didapatkan dan membuat antrean panjang,” ungkap Ketua DPRD Bulungan Kilat, Selasa 14 Januari 2020.

Dirinya butuh komitmen agar permasalahan yang setiap tahunnya terjadi ini segera teratasi. Karena selama ini kuota BBM untuk Bulungan besar, tapi masyarakat tak kebagian.

“Yang kita lihat malahan banyak penjual bensin botolan. Jadi bukan langka tapi memang seperti ada pembiaran dari pemilik SPBU. Tidak pernah melarang pengetap,” jelasnya.

“Harus ada ketegasan, masa tidak bisa mengenali siapa yang sering mengetap. Jangan ada permainan antara pengetap dengan petugas SPBU,” sambungnya.

Bahkan dalam pantauannya, truk yang bermuatan BBM belum datang, para pengetap sudah berbaris untuk melakukan pengisian. Dirinya melihat jika semuanya tidak menghargai pemerintah.

“Pemerintah tidak boleh kalah dengan pengetap, penjual bentol dan pengetap ini tak ada izin, maka bisa dihentikan,” jelasnya.

Selain itu, Aluh Berlian sebagai Wakil Ketua I DPRD Bulungan menambahkan, agar pengawas SPBU yang terkesan sombong untuk diberhentikan.

“Untuk pengawasnya harus diganti karena tidak menghargai kita sebagai anggota dewan. Bagaimana mau memimpin jika orang lain tak dihargai,” ucap Aluh Berlian.

Sementara itu Direktur SPBU PT. Prima Agung atau SPBU Sengkawit Gredy mengklaim kuota BBM untuk jenis premium dan solar mencukupi. Bahkan setiap harinya ada 16 kiloliter (KL) dari dua jenis BBM ini masuk, artinya sehari bisa mencapai 32 KL.

“1 hari jatah BBM kita 40 KL untuk yang bersubsidi, Premium 16 KL dan Solar 16 KL,” sebut Gredy.

Pihaknya pernah meminta kepada Pertamina untuk mendatangkan premium sebanyak 24 KL dan solar 24 KL, sehingga hitungannya bisa masuk jatah 40 KL sehari. Kata dia, pihaknya juga sudah menguji coba selama 2 pekan untuk mengurai antrean panjang mengantisipasi aksi pengetap.

“Saat 24 KL sempat tidak ada antrean, tapi lama kelamaan kembali ke angka 16 KL maka terjadi lagi antrean panjang,” beber Gredy.

Alasan yang didapat, armada pengangkut ke Tanjung Selor terbatas. Disinggung soal kuota tahun 2020, dirinya tidak begitu paham berapa besarannya.

“Kalau itu sama Pertamina saja untuk kuotanya. Sementara komitmen apapun itu saya siap, selama itu tidak menyalahi aturan,” tuturnya.

Kemudian permintaan pengelola SPBU untuk diberhentikan, pihaknya akan melakukan komunikasi di internalnya. “Saya akan melihat ulang dulu,” tutupnya.(*)

Reporter: Heri Muliadi
Editor: M. Yanudin

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed