oleh

Perempuan Dalam Pembangunan “Bumi Paguntaka”

Oleh: Epi Dipayama, S.S.T.

(Statistisi Pertama – BPS Kota Tarakan)

“LAKI-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”, Ir. Soekarno.

Kata bijak Bapak Proklamator Republik Indonesia ini mengisyaratkan bagaimana harmonisasi antara laki-laki dan perempuan menjadi kunci keberhasilan suatu pembangunan. Setiap pijakan bersama seluruh elemen pembangunan tanpa terkecuali, akan menjadi padu dan utuh.

Negara tidak memandang jenis kelamin sebagai pembeda dalam pelaksanaan pembangunan, namun kualitas dari setiap individu yang menentukan bagaimana gerak langkah setiap warga negara akan mendukung pencapaian tujuan nasional. Oleh karena itu, kesetaraan gender dalam pembangunan bukan merupakan suatu pilihan, namun momen tersebut menjadi keharusan untuk mengoptimalkan setiap pergerakan roda pembangunan.

Sebagai wilayah yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Provinsi Kalimantan Utara, tentu saja peran masyarakat Kota Tarakan dalam pembangunan regional menjadi hal yang layak untuk diperhitungkan. Proyeksi penduduk dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah penduduk Kota Tarakan pada tahun 2019 sebanyak 270.894 jiwa atau sebesar 36,50 persen penduduk Kalimantan Utara berdomisili di Kota Tarakan.

Dari total penduduk Kota Tarakan tersebut, sebagian besar penduduk berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 47,72 persen merupakan penduduk perempuan. Dominasi ini bukan tanpa alasan, mengingat sebagian penduduk Kota Tarakan merupakan penduduk migrasi yang bertujuan mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik dengan merantau ke Tarakan. Penduduk migrasi ini tidak hanya berasal dari kabupaten tetangga di Provinsi Kalimantan Utara, namun sebagian merupakan penduduk migrasi dari wilayah Sulawesi maupun Jawa.

Genderang dalam upaya menuntut emansipasi wanita terus digaungkan oleh berbagai pihak. Namun dalam perwujudannya masih memiliki banyak “pekerjaan rumah” yakni meningkatkan kapabilitas dan daya saing perempuan dalam pelaksanaan pembangunan. Hal ini tentu menjadi perhatian di setiap lini pemerintahan baik pusat maupun daerah, khususnya instansi terkait, bahwa penyetaraan gender bukan merupakan tugas perorangan/kelompok, melainkan tugas bersama yang harus merata di setiap bidang urusan pembangunan. Baik itu bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur hingga tata kelola pemerintahan.

Kualitas perempuan di Tarakan memang masih perlu pembenahan, khususnya dalam meningkatkan kualitas dan daya saingnya. Sebanyak 11,90 persen perempuan berumur 15 tahun ke atas di Kota Tarakan belum bersekolah atau tidak tamat Sekolah Dasar (SD), sedangkan sebanyak 16,36 persen hanya lulusan SD. Fakta ini tentu saja menjadi perhatian bagi upaya penyetaraan gender di Kota Tarakan, khususnya dalam peningkatan daya saing perempuan untuk mewujudkan emansipasi wanita.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed