oleh

Di Sebatik Ada Pengantin Pesanan, Dinikahi untuk “Dijual”

NUNUKAN – Kasus penjualan orang lebih banyak terjadi pada anak-anak. Rata-rata korban adalah anak perempuan di bawah umur. Sebagian besar dari mereka dieksploitasi secara seksual. Berbagai modus digunakan pelaku untuk menjerat sasarannya.

Dijelaskan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan, Faridah Ariyani, salah seorang anak di Sebatik menjadi korban pengantin pesanan yang diduga kasus perdagangan orang.

“Benar adanya pengantin pesanan yang sering terjadi di Korea. Ternyata anak Sebatik pernah digitukan juga,” kata Faridah kepada benuanta, Rabu (4/12/2019).

Lanjut Faridah, ada kekerasan seksual terhadap anak di Sebatik dalam kasus itu. Di mana setelah anak perempuan tersebut dinikahi, kemudian dijual. Beruntung anak itu pintar. Setelah dinikahi, dia melarikan diri. “Saya tidak dinikahi tapi saya dinikahi untuk dijual,” kata anak tersebut ditirukan Faridah.

Kasus ini sebelumnya tidak dilaporkan ke DP3AP2KB Nunukan. Namun DP3AP2KB baru tahu saat pelatihan TPPO di Tarakan beberapa waktu lalu. “Peran kita saat ini melakukan pencegahan dini, termasuk pernikahan dini,” jelasnya.

Dalam hal itu peran orang tua juga sangat penting, agar mengerti dampak terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tersebut.

Diakui Faridah, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa itu TPPO. Salah satu kasus yang pernah terjadi di Nunukan adalah akibat pengaruh sosial, menyebabkan terjadi TPPO. Karena diiming-imingi uang dan sebagainya, sehingga seorang remaja rela dijual oleh seorang mucikari.

“Hanya segelintir orang yang paham apa itu TPPO, yang bisa berpengaruh dengan sosialnya, baik lingkungan, dan dampak penyakit yang akan bisa saja terjadi,” tutupnya. (*)

 

Reporter : Darmawan

Editor : M Yanudin

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed