oleh

Belajar Smart City dari Jepang

Oleh : Muhammad Noer

(Pengamat Kebijakan Publik)

DI MASA lampau saat awal mula perang dunia kedua, Tarakan merupakan kota pertama di Indonesia tempat bala tentara Jepang mendarat. Banyak peninggalan historis dan armada bersenjata Jepang di Tarakan yang ditandai dengan monumen kuburan tentara Jepang dan bunker senjata.

Seiring kemajuan zaman, peradaban manusia kini telah berubah. Sejarah kelam Tarakan saat dijajah tentara Nippon, kini berbalik menjadi kekaguman terhadap bangsa Jepang yang mampu mengkombinasikan kemajuan teknologi pintar yang canggih dipadu dengan budaya yang sangat ketimuran.

Saya beruntung bisa berkunjung ke Jepang, khususnya ke kota Osaka, Kyoto dan Tokyo minggu lalu. Saya banyak melakukan observasi, langsung interaksi dengan masyarakat setempat sehari-hari. Di lingkungan tempat tinggal mereka, di ruang publik seperti kereta api, lokasi wisata, dan pasar. Saya tertarik dengan bagaimana bangsa Jepang bisa memadukan teknologi mereka yang canggih dengan budaya, adat istiadat yang sangat santun.

Berikut hasil pengamatan saya, khususnya yang terkait dengan penerapan Smart City yang dicanangkan di Kota Tarakan.

1. Seperti banyak yang telah diberitakan, anak-anak di usia dini lebih banyak belajar tentang pendidikan karakter dengan metode eksploratif dan learning by doing (belajar sambil melakukan). Dari yang saya amati, anak usia belia ini diajak gurunya belajar langsung di ruang publik, belajar antre, tertib, berperilaku apa yang boleh dan tidak.

Misal buang sampah, memilah sampah (dalam hal ini didukung kebijakan pemerintah yang menyediakan sampah berdasarkan jenis sampah, tak hanya organik dan non organik, tapi juga berdasarkan jenis: plastik, kertas, makanan, benda keras). Di sekolah mereka lebih banyak pelajaran olahraga, kerja sama tim, kolaborasi, dan interaktif.

2. Karakter mereka dibentuk secara dini dengan mengenal nilai kejujuran, tertib, menghormati orang yang lebih tua, budaya antre, budaya malu, belajar mandiri, sportif mengakui kesalahan, takut melanggar hukum, dan berlaku sopan di ruang publik.

3. Yang saya amati, lingkungan mereka sangat terjaga. Hampir tak ada sampah di manapun, termasuk di sungai. Di dalam kereta mereka sangat tertib, tidak berisik. Yang paling saya sukai, mereka sopan dan suka menolong, tak segan mereka membuka HP mereka saat kita tanya alamat.

4. Pemerintah menyediakan transportasi publik yang nyaman, halte bus dibuat nyaman dan terkoneksi baik, serta tersedia setiap saat. Jangan bayangkan haltenya seperti di busway Jakarta, haltenya rendah, tak pakai tangga, bus kota juga rendah, ramah buat semua, termasuk buat penyandang disabilitas. Di kereta, bahkan ada pengumuman dilarang mengaktifkan nada dering.

5. Toilet bersih dan modern, juga bahkan jadi icon bagi para turis, serba automatis, tak harus bersentuhan dengan gayung atau air. Pokoknya tinggal pencet, beres. Toilet ini tersedia di mana-mana, mal, toko, rumah makan (fast food). Sudah diatur dalam kebijakan lokal yang mempermudah warga dalam perkara sanitasi dan higienis.

6. Saat selesai makan, kita harus membersihkan sisa makanan kita sendiri, lap basah, tong sampah, tempat baki telah disiapkan. Saat belanja di supermarket, kita bisa memilih pakai kantong.

7. Hanya diperbolehkan merokok di tempat yang sudah ditentukan. Seperti di sudut dekat tempat sampah, ada ruangan sempit khusus merokok. Selain tempat itu, kita tidak boleh merokok di sembarang tempat.

Bagaimana menurut Anda berita ini
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
loading...
Loading...

Komentar

News Feed